Tuban – Ratusan hektar tanaman padi yang berumur 60 hari yang berada di sepanjang bantaran daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo di wilayah Kabupaten Tuban mulai dari Kecamatan Soko, Rengel, Plumpang dan Widang diserang hama tikus sejak sepekan belakangan ini.
Serangan hama tikus kali ini, seperti dituturkan Supardi, petani warga Desa Kedungsoko, Kecamatan Plumpang, merusak tanaman padi secara bertahap. Kalau tidak segera diantisipasi, kata dia, akan berakibat ancaman terjadinya puso.
“Hama tikus yang terjadi sekarang ini, tidak terduga sehingga kami kelabakan menghalaunya. Karena, biasanya hama tikus tidak pernah ada pada akhir tahun. Ynng terjadi biasanya adalah ancaman banjir tahunan akiat meluapnya Sungai Bengawan Solo,” kata Supardi, Jumat 19 Maret 2010 yang tengah memagari tanaman padinya dengan plastik atau dengan memasang bohlam warna merah.
Tapi, menurut Supardi, pemasangan puluhan lampu yang dialiri dengan listrik PLN ini berisiko tinggi. Dari beberapa kali peristiwa kematian akibat kena setrum kabel yang mengelupas, kata dia, membuat petani jarang lagi memasang lampu warna merah di sawah.
Dengan adanya serangan hama tikus tersebut, kata Supardi, beban biaya yang dikeluarkan makin tinggi. Belum lagi persoalan pemupukan dan penyemprotan insektisida untuk hama serta penyubur tanaman.
Upaya menghalau hama tikus dengan cara menggeropyok beramai-ramai dengan cara menggelontor air ke dalam lubang atau pengasapan, kata Sulkan, seorang petani di Desa Sandingeowo, Kecamatan Soko tidak effektif.
“Untuk sesaat tikus akan mati memang. Namun setelah itu akan datang lagi dengan jumlah yang lebih besar,” ujar Sulkan.
Seorang petani lainnya di Desa Bandungrejo, Subekan, menyatakan derita yang menimpa petani seperti tak ada habisnya. Belum usai didera keresahan akibat kesulitan mendapatkan pupuk, kini petani sepanjang DAS Bengawan Solo kembali dipaksa mengahadapi ganasnya hama tikus yang menyerang areal tanaman padi milik mereka.
Menurut Subekan, hama tikus mulai menyerang tanaman padi milik para petani di dua desa di Kecamatan Plumpang, yakni Desa Kebomlati dan desa Kedungsoko, semenjak semenjak tanaman masih berusia dua pekan. Sedang usia tanaman rata-rata kini telah mencapai satu bulan.
Razia atas tikus dengan cara gropyok tikus itu terpaksa di lakukan oleh para petani karena berbagai upaya telah dilakukan sebelumnya. Mulai dari menebar racun tikus dengan beberapa jenis makanan sebagai umpan sampai hingga memasang pagar plastik mau pun seng. Namun, menurut Subekan, lagi-lagi usaha itu sia-sia belaka disebabkan jumlah tikus ribuan. yang bersarang di sepanjang pematang.
Ketua Kelompok Tani Desa Kedungsoko, Rahmat, mengatakan serangan hama tikus diperkirakan masih akan terus berlanjut hingga beberapa pekan mendatang. Berdasarkan kebiasaan yang terjadi sebelumnya, kata Rahmat, hasil panen dipastikan akan mengalami penurunan hingga 50 persen.
Kapolda Bengkulu Serahkan Batuan dari Kapolri ke BPBD untuk Korban Gempa
Fatmawati Rusdi Tekankan Pendekatan Humanis Satpol PP
Plh Sekda Makassar Buka Musrenbang Kecamatan Wajo Tahun Anggaran 2025
Ucapkan Selamat Natal, Kapolri Serukan Persatuan dan Kesatuan
Scholz Kunjungi Magdeburg Setelah Serangan Pasar Natal









