Amerika Belum Buka Normalisasi Hubungan Dengan Kopassus

Jakarta – Karena alasan pelanggaran HAM yang diduga dilakukan oleh TNI, Amerika Serikat pernah melakukan embargo terhadap TNI. Seperti diketahui, pada masa embargo itu, beberapa jet tempur F16 yang dibeli dari Amerika tidak dapat terbang karena tidak ada suku cadang akibat dari embargo itu.

Pada masa pemerintahan Presiden George W Bush, Amerika mencabut embargo terhadap TNI tersebut secara terbatas pada tahun 2005. Atas pencabutan itu, program Pendidikan dan Pelatihan Militer Internasional (IMET) dan penjualan peralatan militer non-lethal yang sempat terhenti, kembali dilanjutkan.

Namun pencabutan embargo tersebut dikecualikan terhadap Kopassus, pasukan elit TNI Angkatan Darat. Hingga kini, Amerika belum bersedia melakukan normalisasi hubungan dengan pasukan baret merah tersebut.

Padahal pihak Indonesia telah mengirim delegasi ke pemerintah Amerika Serikat untuk memberi gambaran terkait reformasi yang telah dilakukan TNI, namun hingga belum ada kejelasan.

Danjen Kopassus, perwakilan Kementerian Pertahanan dan Kementerian Luar Negeri telah melakukan lobi ke Pemerintah Amerika Serikat untuk kepentingan normalisasi kerjasama militer AS dengan Kopassus TNI AD.

Menurut Menlu RI Marty Natalegawa yang disampaikan di kantornya Jl. Pejambon Jakarta Pusat Jumat, 19 Maret 2010,  jika Amerika belum juga membuka normalisasi hubungan dengan Kopassus, kita (Indonesia) tidak akan mengemis.

Sejumlah pihak menyayangkan sikap mendua Amerika tentang Hak Azasi Manusia, karena negara Super Power itu telah melakukan hal yang relatif lebih buruk terhadap Afganistan dan Irak.

Amerika menganggap Kopassus bertanggung jawab terhadap sejumlah pelanggaran HAM seperti kasus penculikan terhadap sejumlah aktifis sebelum reformasi, padahal atas kasus tersebut telah melalui proses hukum Indonesia, dan beberapa telah dikenakan sangsi.