TUBAN – Diantara ribuan goa yang ada di Tuban, Ngerong yang di bawahnya mengalir air dengan ikan-ikannya, kelelawar yang bergelantungan di dindingnya, menebarkan pesona dan keinginan untuk bertualang masuk ke lorongnya yang gelap dan panjang namun selalu merindukannya untuk kembali menelusuri kembali aliran air berundak ke dalam kepekatannya yang tiada batas.
Goa Ngerong yang berada persis di kaki bukit pegunungan kapur, terletak di Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Tuban, Jawa Timur. Untuk mencapai lokasi obyek wisata petualangan yang sejak beberapa tahun terakhir mulai menggeliat ini, sangat sulit. Dari pusat pemerintahan Kota Tuban, berjarak 30 kilometer dengan akses transportasi mudah dan cukup.
Ngerong yang diselimuti ribuan misteri di sekelilingnya, dari dulu sampai kini tetaplah menarik dan membuat banyak orang untuk datang melihatnya sekaligus mencoba berpetualang menyusuri lorong-lorongnya.
Para wisatawan domestik dan beberapa lainnya dari mancanegara yang berkunjung ke Ngerong, tak semuanya berjiwa petualang. Hanya orang-orang bernyali besar saja yang berani melakukan petualangan ke dalam Goa Ngerong.
Dari beberapa kali perjalanan Duta menyusuri sepanjang lorong Goa Ngerong bersama-sama dengan tim ekspedisi dari Surabaya , Bandung dan Jakarta terasa selalu ada yang baru dan berubah di setiap rutenya. Kekentalan rasa senyap dan dingin seperti sebuah baling-baling yang berputar. Kerap kali bingung bahkan lupa sedang berada di mana. Tapi, dari beberapa tanda yang pernah dibuat dan masih dikenali, kebekuan mencair juga akhirnya.
Perjalanan menyusuri lorong goa, diawali dari sungai yang mirip akuarium raksasa karena hidup ribuan ikan dan bebepa bulus (sejenis kura-kura) di mulut dengan perahu karet, oksigen, lampu senter, tali dan bberapa alat petualangan lainnya. Begitu masuk beberapa meter ke dalam, suara gaduh cicit kelelawar menyambut dan gelap luar biasa.
Dari sinilah sesungguhnya, petualngan dimulai. Terus masuk ke dalam melawan arus air yang mengalir dari tempayt yang lebih tinggi. Tantangan berikutnya adalah menaiki undakan yang lebih tinggi terus menerus sampai sejauh satu kilometer hingga akhirnya sampai pada sebuah tempat seperti ruang terbuka dengan air terjun di atasnya.
Untuk menembus lebih jauh lagi sudah tidak memungkinkan lagi karena lorongnya makin menyempit. Kira-kira hanya seukuran tubuh manusia. Menurut arkeolog Belanda asal Selandia Baru, Robert K Teko yang pernah melakukan penelitian di Goa Ngerong, masuk menembus lorong berikutnya sudah tidak mungkin. Lantaran, di lorong yang terus menyempit itu dipenuhi dengan zat asam arang (CO) yang mematikan bila dihirup manusia.
“Berpetualang menyusuri Goa Ngerong sungguh mengasyikkan dan penuh tantangan,” kata Sarah, seorang mahasiswa jurusan arkeologi Universitas Airlangga Surabaya yang pernah bertualang di sana awal tahun 2000 lalu. “Saya rasanya ingin kembali lagi ke sana ,” katanya saat ia bersama-sama dengan beberapa kawannya melancong ke Ngerong, lebaran kemarin.
Sulit digambarkan dengan kata-kata, suasana perjalanan menyusuri ke dalam lorong Goa Ngerong. Hanya saja, yang pasti, tiap kali seseorang sudah pernah berkelana di dalamnya, senantiasa tumbuh keinginan untuk kembali lagi. Sebuah rahasia alam yang sulit dicari jawabnya.
Pesona Tersendiri
Menikmati Ngerong tidak harus melakukan petulangan semaya. Bagi mereka yang tidak punya nyali cukup melihat keindahan luarnya ssja. Sementara, biarkan anak-anak bermain dengan perahu atau belajar berenang.
Dari waktu ke waktu, obyek wisata Goa Ngerong pada galibnya tidak pernah mengalami perubahan yang berarti. Kalau pun ada, tempat plesir yang kini berada di bawan pengelolaan Pemerintah Desa Rengel tersebut, hanya wajah depannya saja yang berubah. Tetapi, itulah, Ngerong dengan segala yang ada di dalamnya tetap saja menarik untuk dikunjungi.
Disamping pesona magis goanya, suasana di luarnya tetap menebarkan pesona tersendiri. Barangkali, hanya di Ngerong saja orang masih bisa menikmati suasana alam yang asli. Ribuan ikan yang berkeliaran di Kali Ngerong, adalah daya tarik lain nya.
Peningkatan jumlah kunjungan ke Ngerong, seperti disebutkan Sekretaris Desa Rengel, Drs. Ali Hamka, terus mengalami peningkatan yang menggembirakan. “Jumlah kunjungan paling tinggi di saat-saat liburan. Mereka dating dari berbagai kota di Jawa Timur dan beberapa kota lainnya dari propinsi lain,” kata Hamka.
Dengan disediakannya perahu-perahu yang bisa disewa dengan tarif Rp 5 ribu /jam, memancing minat pengunjung terutama bagi keluarga dan anak-anaknya. Disamping juga sebagai tempat belajar berenang yang aman jarena kedangkalan airnya.
Meski Ngerong telah berubah fungsi sebagai tempat wisata, masyarakat setempat tetap diberikan kebebasan untuk melakukan aktivitas cuci mencuci bahkan mandi. Perempuan dan laki-laki.
Ledakan pengunjung, terutama dari seputaran Tuban dan sekitarnya terjadi pada hari Jumat Pahing. Di mana pada hari pasaran Jawa itu, orang berdatangan untuk nyekar atau sekadar membasuh muka dengan air Kali Ngerong.
“Merreka ini rata-rata berkeyakinan kalau Ngerong punya tuah dan diyakini mampu merangsang usaha, jodoh atau hal lainnya yang berkaitan dengan kepentingan duniawi,” tutur Ali Hamka. “Soal kebenarnnya, wallahu a’lam.”
Goa Ngerong dengan keindahan kalinya, menurut penuturan beberapa orang sepuh di sana , mampu menghipnotis penduduk setempat dan masyarakat umum di luar Kabupaten Tuban, lebih pada banyak kisah-kisah misteri di sekelilingnya. Mulai dari bagian cikal bakal terbentuknya Kadipaten Tuban di masa kerajaan dulu, kepahlawan tokoh Kembangjoyo yang sakti mandraguna hingga cerita tentang kecantikan putri Ngerong yang elok rupawan.
Ada kisah yang beredar di kalngan penjual kembang di hari Jumat Pahing, sang putri yang konon bertapa di dalam Goa Ngerong hingga lampus (raganya menghilang, tapi masih kerap terdengar suaranya, kerap muncul di tengah kesibukan orang nyekar. Ia digambarkan mengenakan kebaya dengan selendang di bahunya sambil membawa tas belanjaan khas orang dusun.
Terlepas dari mistis dengan segala rahasianya, Goa Ngerong ke depannya berprospek untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata alam sekaligus wisata petualangan
Ikan Dalam Akuarium Raksasa
Ngerong seperti sebuah magnit yang memiliki daya tarik luar biasa. Ribuan ikan yang berkeliaran di air kali sebening kaca ibarat akuarium raksasa. Sedari dulu keberadaannya tetap seperti sekarang. Tak pernah berpindah tempat meski aliran airnya cukup deras sampai jauh ke hulu dekat tempat pengeboran minyak.
Tempat yang dituju pertama kali oleh pengunjung yang datang ke Ngerong adalah sungai di mulut goa untuk nelihat ikan. Walau selalu mengapung di atas air, sehjenis ikan gabus ini sulit ditangkap dan dipercaya sebagai piaraan sang putri Ngerong. Sehingga, tak seorang pun yang berani menangkapnya.
Namun, sebetulnya, pelarangan mengambil ikan di kali Ngerong adalah bagian dari upaya pelestarian terhadap ikan-ikan itu sendiri. “Kalau ditangkapi, cepat atau lambat akan habis dan punah,” tutur Sulhan, penduduk setempat.
Dengan umpan klentheng yang dijual di kompleks Goa Ngerong, ikan yang ada saling berebut dan berlompatan. “Ikan di sini lebih suka pada klentheng,” kata Ny. Darmi, salah seorang penjual klentheng. Harganya cuma Rp 500 per bungkus plastik ukuran ¼ kg.
Ny. Darmi yang mengaku telah berjualan klentheng sejak muda menyatakan, dari hasil jualan umpan ikan tersebut seharinya bisa membawa pulang uang tak kurang dari Rp 50 ribu di saat ramai pengunjung. “Pada hari-hari biasa, sekitar Rp 20 ribu. Lumayan sebagai tambahan kebutruhan sehari-hari,” ungkapnya.
Berkah Ngerong bagi masyarakat sekitar dirasakan sangat berarti. Mulai dari penjual kembang, klentheng, penganan hingga tukang parkir. Jika saja, Ngerong bisa dikemas dalam satu paket kunjungan wisata lainnya di Tuban, niscaya akan jadi pundi-pundi uang. Tidak saja bagi pengelolannya. Tapi, juga masyarakat sekitar. (LEA)









