Memanfaatkan Lahan Kosong jadi Produktif

maiwanews, Tuban – Pada areal kurang lebih 16,3 hektar di petak 60 F, RPH Suruhan, BKPH Plumpang, Tuban, Jatim, dahulu memang merupakan hamparan kosong yang selalu gagal apabila dilakukan penanaman jati maupun jenis rimba. Ini dikarenakan masyarakat disekitar lokasi tersebut, yang notabene pekerjaanannya selain bertani pencari kayu rencek,

Karenanya, upaya untuk memaksimalkan lahan ini untuk menjadi lahan produktif  lagi, segenap karyawan kantor KPH dan Asperan Plumpang langsung secara spontan digerakkan oleh Agus Suharya, Kasi PSDH KPH Tuban dengan melakukan penanaman sebanyak 3000 bibit jati plus sehari langsung selesai bersama masyarakat dusun Suruhan, Desa Suruhan, Kecamatan Plumpang,.

“Dengan ketidaksadarannya masyarakat akan tanaman perhutani tersebut yang berimbas selalu merugi untuk Perum Perhutani. Dengan program PHBM Plus akhirnya pimpinan di tingkat KPH Tuban ini memberikan PR bagi asper-asper KPH Tuban wilayah yang sulit dikembalikan untuk dicobakan jenis tanaman Jati,” kata Agus Suharya.

Sementara, Asper/KBKPH Plumpang, Samiwanto,  akhirnya berpikir bagaimana agar tanamannya sukses dan tidak selalu diganggu oleh masyarakat serta karena lahannya yang PH tanahnya kecil. Cenderung di daerah ini masyarakatnya masih menggantungkan hidupnya terhadap kawasan hutan. Di dusun Suruhan, masyarakatnya  juga sering kali mengeluhkan tanaman pertaniannya kurang dapat tumbuh dengan normal.

“Dengan program PHBM baru tersebut KPH Tuban mengembangkan One Man One Talk (satu orang yang punya andil tersebut disadarkan untuk berupaya memaksimalkan dengan perawatan lebih intensif pada tanaman kehutanan) di wilayahnya. Awalnya, pengelolaan dengan menanam jenis jati plus tersebut diberitakan ke warga bahwa jenis tanaman itu akan cepat panen,” tutur Samiwanto.

Dengan memakai jarak tanam 3x2m, akhirnya Samiwanto dan Suharya, mengkombinasikan tanaman pokok Jati Plus ini dengan kesambi untuk tanaman pengisi (larikan ke-5) dan tanaman tepi. Sedangkan sebagai tanaman hiasnya Samiwanto selalu memakai flamboyan.

“Jati Plus dapat tumbuh dengan baik apabila bersih dari tanaman bawah dan tidak banyak terkontaminasi oleh tanaman palawija masyarakat,” tutur Kiswanto.

Tanaman jati ini yang baru berumur 1 bulan (tahun tanam 2012) tersebut hanya membutuhkan perawatan/pemeliharaan sampai dengan umur kurang lebih 10 tahun dan mempunyai masa daur atau masa panen umur 20-30 tahun, begitu Agus menambahkan keterangannya.

“Tanaman Jati seluas 16,3 hektar ini yang pada tahun ke-2 nanti sudah mendapatkan penilaian dari tim KPH dengan nilai tumbuh 99 persen diharapkan akan berhasil dipanen pada masa daurnya nanti dan menjadi salah satu contoh keberhasilan penanaman di KPH Tuban,” tandas Agus. (LEA)