
Tuban – Kerajinan gerabah Karang, satu-satunya yang terbaik di Tuban, keberadaannya kini terancam punah. Meski harga jual mengalami kenaikan, harga bahan bakunya juga naik pula. Mereka tetap bertahan dalam berprosuksi lantaran harus membayar hutang yang menumpuk.
Terus berkurangnya jumlah perajin gerabah menjadi bukti kuat bahwa kerajinan dari tanah itu, tidak lagi bisa menjdi tumpuan hidup nasyarakat Kelurahan Karang, Kecamatan Semanding, Tuban. Padahal beberapa tahun lalu, hamper semua warga, terutama yang tinggal di Dusun Krajan, menyandarkan hidupnya pada periuk tanah liat. Kini selain jumlahnya menyusut keberadaan perajin yang bertahanpun tidak semakin baik. Walau harga gerabah mengalamo kenaikan, belum mampu mendongkrak perekonomian mereka yang memperihatinkan.
“Harga gerabah memang naik, namun bahan baku juga ikut naik. Sehingga kalau dihitung-hitung kami sebenarnya hanya mendapatkan laba yang tipis, apalagi harga tersebut sering dipermainkan pengepul,” kata Lilik Sudarkam (34), seorang perajin gerabah setempat, Minggu 28 Maret 2010.
Disebutkan, bahan baku didatangkan dari tempat lain dengan harga Rp 120 ribu/rit untuk tiga pembakaran. Bahan tambahan berupa pasir laut Rp 160 ribu/truk. Sementara, untuk setiap kali pembakaran dibutuhkan biaya sekitar Rp 200 ribu.
Padahal dalam satu hari Lilik mengaku hanya mampu memperoduksi 50-60 buah gerabah saja. Bila seminggu sekali melakukan pembakara, yang rata-rata 350-420 buah gerabah, penghasilan Lilik hanya sekitar Rp 94.500 – Rp114.500. Ini apabila harga gerabah sesuai dengan harga pasar yani Rp 270 per buahi. Kalau sudah masuk tengkulak kata Lilik, hargai bisa di bawah harga pasar.
“Bila tenaganya dihitung, kami tidak dapat apa-apa. Kita rugi waktu dan tenaga,” tutur ayah dari dua orang anak ini.
Perajin lainnya, Mbah Karti (60), menyatakan mereka tetap bertahan karena terpaksa dan lebih baik meninggalkan pekerjaan tersebut. Tengkulak, menurutnya, seringakali meminjami uang terlebih dahulu sebagai ikatan kontrak terhadap perajin.
Pada saat musim produksi seperti saat ini, tengkulak tersebut menagih pembayarannya. Tidak dibayar uang, tapi dengan gerabah yang harganya ditentukan sepihak oleh tengkulak. “Kita bertahan dan terus bekerja untuk menutup hutang. Buat menutpi kebutuhan sehari-hari, kami sering ngutang lagi pada mereka,” aku Mbah Karti.
Keprihatinan berkepanjangan perajin gerabah, seperti luput dari perhatian pemkab setempat. Hampir semua perajin mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Mereka mengaku tahu ada banyak kredit lunak dan bermacam bantuan, tapi hingga saat ini tidak satu pun fasilitas tersebut mereka nikmati.
India-Pakistan Sepakat Gencatan Senjata
Walikota Moh Ramdhan Resmikan Gereja Pantekosta Bathesda Makassar
Dephan AS Umumkan Pemulangan Ridah Bin Saleh al-Yazidi dari Guantanamo ke Tunisia
Meriahkan Natal, 'Polisi Santa' Hadir di Jayapura
Andi Arwin Azis Lepas dan Ikuti Road to Give 2024, Olahraga untuk Kesehatan dan Amal









