Tuban – Meski gong pemilukada Tuban masih akan dihelat April 2011 mendatang, sejumlah nama mulai bermunculan untuk maju meraih tampuk pimpinan di Bumi Ronggolawe (sebutan lain Kota Tuban) lima tahun ke depan.
Disamping Setijadjit, kini menjabat Kepala Bakorwil Bojonegoro, yang telah melakukan sosialiasi ke sejumlah desa yang ada, muncul nama lain seperti dr. Bambang Lukmantono, serta dr. Supratikto. Dua dokter tersebut rencananya akan maju melalui jalur independent.
Nama dr. Bambang Lukmantono, sendiri yang lima tahun lalu juga berusaha maju sebagai calon bupati kandas di tengah jalan. Kini, seperti yang diungkapkannya, akan maju kembali.
Kemunculannya ke permukaaan sebagai bakal calon (balon) bupati, meski hanya dinominasikan sebagai kuda hitam, bahkan ada menyebutnya penggembira, namanya sempat mencuat di kalangan masyarakat. Pemikiran-pemikirannya yang lugas, mudah dicerna dan dirindukan masyarakat. Tapi, toh Bambang Lukmantono, kala itu seperti diakuinya tersingkir oleh money politik.
“Saya berprinsip akan bermain dengan fair. Dalam berpolitik, jika uang yang dikedepankan akan membuat rakyat makin sengsara. Sementara, pejabat yang berkuasa akan makin korup,” kata Bambang Lukmantono, atau yang diakrabi kawan-kawannya dengan sebutan BL, di kediamannya Senin 29 Maret 2010.
Kacamata mata minusnya sesekali dibetulkan akibat posisinya yang kurang pas. Asap rokok terus mengepul dari bibirnya. Meski seorang dokter, BL minum kopi dan termasuk perokok berat.
Demikianlah. BL yang jadi balon bupati aktif bersosialisai sekaligus mengerjakan kewajiban sosial kepada masyarakat yang membutuhkan pertolongannya. Segenap lapisan masyarakat diakrabi. Meski ia tahu, ada beberapa diantara mereka yang tak mendukungnya. Soal ini, BL menyatakan dalam menyam,paikan aspirasi politiknya rakyat harus diberikan kepercayaan seluas-luasnya. “Pemilukada termasuk pembelajaran politik bagi rakyat. Jadi, biarkan mereka memilih sesuai dengan nuraninya masing-masing,” tutur BL.
BL yang mengaku ingin memberikan pelajaran politik pada rakyat secara luas dan terbuka melalui ajang pilkada, harus tersingkir jauh sebelum ia sebelum dinobatkan sebagai kandidat calon bupati.
Menyikapi kekalahannya masa lima tahun lalu, BL mengaku telah jadi korban money politik. Tapi, dengan besar hati ia tak menuding siapa yang telah membokongnya. BL merasa telah dikhianati oleh beberapa pihak. Hanya saja, BL mencoba terus menganalisa setiap kejadian yang ada. “Semua pasti ada hikmahnya.”
Karena langkah-langkahnya yang berani dan sosok yang kontroversi, di kalangan birokrat ia termasuk orang yang dipinggirkan. Alumnus Fakultas Kedokteran Unair 1981, magister menjemen Ubaya 1994 dan Fakultas Hukum Universitas Wijaya Kusuma 2001 ini, sejak awal memang menolak kemapanan. Langkah beraninya diawalinya dengan keluar dari PNS dengan jabatan kepala puskesmas.









