Belanda Minta Maaf Atas Korban 40 Ribu Jiwa di Sulsel

maiwanews – Melalui Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Tjeerd de Zwaan, pemerintah Belanda meminta maaf secara resmi kepada warga Sulawesi Selatan (Sulsel) yang menjadi korban pembantaian tentara penjajah pimpinan Westerling.

Permintaan maaf tersebut disampaikan Tjeerd de Zwaan di Gedung Kedutaan Belanda, Kuningan, Jakarta Selatan hari ini, Kamis, 12 September 2013. Tiga perwakilan keluarg korban dari Sulsel dihadirkan di acara itu.

Pemerintah Belanda Zwaan, merasa perlu bertanggung jawab demi menghormati para janda dari korban pembantaian di Sulawesi Selatan. Di samping itu katanya, pemerintah Belanda ingin memperbaiki hubungan dengan Indonesia.

Zwaan menjelaskan, selain permintaan maan, pemerintah Belanda juga telah membuat kesepakatan dengan para janda korban pembantaian Westerling dengan kompensasi senilai 20 ribu Euro atau Rp301 juta kepada setiap janda korban eksekusi.

Namun yang mengherankan, pemerintah Kerajaan Belanda hanya memberikan kompensasi terhadap 10 janda korban pembantaian.

Sejumlah tokoh Sulsel mendesak pemerintah Indonesia menolak permintaan maaf itu. Menurut sejarawan asal Sulsel, Anhar Gonggong, higga saat ini pemerintah Belanda belum mengakui kemerdekaan Indonesia.

Peringatan Korban 40 Ribu Jiwa di Sulsel

Di Sulsel, peristiwa mengenaskan itu diperingati setiap tahun pada tanggal 11 Desember di kota Makassar. Masyarakat Sulsel menyebut peringatan itu dengan nama Hari Korban 40.000 jiwa.

Meski angka 40 ribu iwa sempat jadi perdebatan oleh para tokoh dan sejarawan Sulsel, namun nyatanya, sejak lama telah berdiri Monumen Perjuangan Korban 40.000 Jiwa di Kalukuang, Makassar. Di tempat itulah peringatan dilakukan setiap tahun.

Latar Belakang Pembantaian Dilakukan

Pembantaian oleh tentara komando pasukan khusus Belanda bernama Depot Speciale Troepen (DST) pimpinan Raymond Pierre Paul Westerling itu berlangsung sejak Desember 1946 hingga awal akhir 1947.

Operasi pembantaian dilakukan di Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene (Pangkajenedan Kepulauan), Barru, Sidenreng Rappang (Sidrap), Pinrang, Polewali, dan Mandar.

Pengiriman DST dilakukan Belanda untuk mengatasi kegigihan rakyat Sulsel melakukan perlawanan usai kemerdekaan Indonesia terhadap penjajah yang kembali datang dengan membonceng tentara sekutu.

Ketika itu, para pemuda dan pelajar di Makassar mengibarkan bendera merah-putih usai menyerbu dan menduduki Empress Hotel yang berfungsi sebagai markas NICA. Bukan hanya itu, para pelajar juga menyerbu tangsi Polisi di jalan Gowa, kantor gubernur, dan kantor polisi di jalan balaikota.

Semangat perlawanan makin berkobar ketika Pusat Pemuda National Indonesia (PPNI), sebuah organisasi perlawanan yang dipimpin Manai Sophian (ayah Alm Sopan Sophian), menyerukan pengibaran bendera merah-putih di setiap rumah di kota Makassar yang kemudian ditaati oleh rakyat.

Bukan hanya itu, pada 15 oktober 1945, raja-raja di Sulsel bersama dengan Gubernur Ratulangi, membuat pernyataan bersama untuk mendukung pemerintah Republik Indonesia.

Perkembangan tersebut yang kemudian tidak disukai oleh Belanda dengan mengirim pasukan khusus DST pimpinan Westerling untuk melakukan pembantaian.