maiwanews – Pengadilan Rusia mendakwa 14 dari 30 aktivis pecinta lingkungan, Greepeace, atas tudingan melakukan pembajakan. Mreka ditahan 28 September lalu setelah melakukan protes di salah satu anjungan pengeboran minyak milik perusahaan negara Rusia, Gazprom, di Arktik Kutub Utara.
Pengadilan pada 2 Oktober waktu setempat mengancam para terdakwa dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara. Proses peradilan hari Rabu malam di sebelah utara kota Murmansk mengalami penundaan dan akan dilanjutkan hari Kamis.
Dakwaan tersebut diangap ekstrim oleh aktivis Greenpeace, direktur eksekutif Greenpeace Internasional, Komi Naidoo, (dikutip oleh Russia Today) megnatakan dakwaan tersebut tidak proposinal dan terbilang ekstrim.
Kuasa hukum Greenpeace, Mikhail Kreindlind, kepada Interfax mengatakan dakwaan terhadap kliennya tidak berdasar dan bertentangan dengan hukum. Para aktifis tidak memiliki motif apapun untuk mengambil alih properti milik pihak lain, tidak ada kejahatan dalam hal ini.
Menurut jaksa, aktivis Greenpeace merupakan ancaman nyata bagi keamanan pribadi para staf dan properti Prirazlomnaya, dan tujuan damai tidak bisa dijadikan pembenaran atas tindakan mereka.
Sebuah kapal Greenpeace tiba di lokasi pengeboran minyak pada bulan September untuk melakukan aksi protes pada 18 September. Kapal beserta 30 penumpang ditahan sehari kemudian oleh penjaga perbatasan. Mereka berasal dari 19 negara, ditahan dan diserahkan ke pengadilan kota Murmansk hingga 24 November.
Saat terjadi penahanan terhadap 30 anggotanya, Greenpeace telah mengajukan banding dan menuntut pembebasan terhadap para anggotanya. Presiden Rusia, Vladimir Putin, dalam sebuah penryataannya mengatakan para aktivis bukan pembajak, namun upaya menaiki anjungan pengeboran minyak telah melanggar hukum internasional. (R19/RT)
India-Pakistan Sepakat Gencatan Senjata
Menlu Rusia Sebut Warga Sipil Jadi Korban Serangan Ukraina
Jubir Kemenlu Rusia Tanggapi Serangan Pesawat Nirawak Ukraina
Pjs Wali Kota Makassar Sambut Kedatangan Studi Banding Pemkot Bontang
AS Tuding China dan Rusia Bawa Ruang Angkasa ke Wilayah Berbahaya









