Jakarta – Selaku penegak kedaulatan dan hukum di laut Indonesia, khususnya wilayah perairan yurisdiksi nasional Indonesia kawasan barat, Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) TNI AL, kembali menggelar Operasi Siaga Tempur Laut.
Operasi dengan sandi Arung Pari – 10 tersebut merupakan operasi siaga tempur laut yang dilaksanakan oleh Gugus Tempur Laut Koarmabar (Guspurlabar).
Dengan operasi siaga tersebut, Koarmabar diharapkan mampu meningkatkan eksistensi dan kewibawaan TNI AL selaku penegak kedaulatan dan hukum di laut Indonesia serta mampu memberikan dampak penangkalan.
Menurut Komandan Guspurlabar Laksma TNI Didit Hardiawan MPA, MBA operasi tempur laut ini akan dilaksanakan selama tiga bulan dengan melibatkan beberapa unsur KRI, diantaranya pesawat udara dan Pasukan Khusus TNI AL yang terdiri dari unsur 5 KRI, 1 Pesud TNI AL, 2 Tim Paska, 2 Tim Repair, 1 Tim Taifib dan Tim Pendukung.
Operasi yang dilakukan di wilayah perairan yurisdiksi nasional Indonesia kawasan Barat tersebut, akan difokuskan di wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar.
Pada saat melakukan lintas laut di sekitar Perairan Pulau Lingga, unsur KRI yang tergabung dalam Satuan Tugas Tempur Laut dibawa pimpinan Komandan Guspurlabar yang menggunakan KRI Sultan Iskandar Muda (SIM-367).
Dengan menggunakan KRI Sultan Iskandar Muda sebagai kapal markas, para prajurit TNI AL itu melakukan serangkaian latihan-latihan antara lain Manuver Taktis dengan gerakan Air Raid Reporting Coordinator Sector (ARRCS), Isyarat kibaran bendera (Flag Hoist), Isyarat lampu dan Pembekalan di laut (Replenishment At Sea) sekaligus pengendalian Helly dengan metode positif.
Teknik latihan dalam Operasi Siaga Tempur Laut tersebut diharapkan mampu meningkatkan naluri tempur para prajurit matra laut dalam rangka menjamin kepentingan kedaulatan nasional NKRI.









