Seoul – Sebuah helikopter anti-kapal selam milik angkatan laut Korea Selatan dikabarkan telah mengalami sebuah kecelakaan dan jatuh di kawasan lepas pantai barat daya negeri ginseng itu, pada Jumat, 16 April 2010.
Helikopter Lynx tersebut menghilang Kamis setelah sebelumnya sempat kehilangan kontak radar dengan pasukan patroli sekitar 14,5 kilometer di lepas pantai. “Namun hingga saat ini, pasukan penyelamat belum menemukan bangkai helikopter,” kata pejabat pertahanan.
Kecelakaan helikopter anti-kapal selam yang bernama lengkap Westland Lynx tersebut mengakibatkan satu penumpang dikabarkan meninggal dan tiga orang dinyatakan hilang. Penyebab insiden itu belum diketahui, namun dua kapal angkatan laut kecepatan tinggi berhasil menemukan jasad satu dari empat penumpang helikopter naas itu.
Helikopter Lynx yang saat ini digunakan oleh angkatan bersenjata di lebih dari dua belas negara di dunia, dirancang oleh Westland Aircraft (sekarang bernama AgustaWestland) dan diproduksi di pabrik Westland di Yeovil.
Helikoter yang awalnya juga diproduksi untuk kepentingan sipil itu mulai dioperasikan pada tahun 1977. Pada Februari 1967, cikal bakal pembuatan helikopter dimulai dengan penandatanganan perjanjian dilakukan antara Inggris dan Prancis, perusahaan Perancis Aerospatiale diberikan bagian kerja dalam proyek pembuatan.
Lynx merupakan helikopter lincah dan mampu membuat gerakan berputar (loops and rolls). Pada sebuah penerbangan yang dipiloti Roy Moxam pada 1972, Westland Lynx mampu mencapai rekor 15 dan 25 km dengan kecepatan 321,74 km/jam.
Di negeri pembuatnya, angkatan bersenjata Inggris menggunakan Lynx untuk berbagai keperluan, termasuk pengangkutan taktik, pengiring angkatan bersenjata, pertempuran anti-kendaraan baja, pengintaian dan evakuasi.
Nama Lynx diambil dari nama seekor kucing liar yang ada di hutan Eropa. Kucing liar tersebut mempunyai tubuh lebih besar dari kucing rumahan pada umumnya. Kelincahan menerkam mangsa berupa burung yang mendasari filosofi pemberian helikopter tersebut dengan Lynx.









