GRESIK – Gegap gempita pesta demokrasi di daerah dalam atmosfir pemilukada, masih banyak masyarakat awam yang notabene calon pemilih tidak mengetahui apa yang sesungguhnya yang terjadi dan tak mempedulikannya. Namun, dalam pencoblosan nanti
mereka sudah punya bekal siapa nama yang akan dipilih.
Pemilukada Gresik yang rencananya akan dihelat pada 26 Mei mendatang, tidak membuat masyarakat di tingkat pemilih bersibuk diri. Dari serangkaian wawancara dengan beberapa orang yang berada sejumlah desa di Kecamatan Panceng, Dukun, Bungah, Bawean serta Kecamatan Manyar dan masyarakat di tingkat perkotaan, realitas menunjukkan suksesi lima tahunan itu disambut dingin. Bahkan terkesan apatis.
Sejumlah ibu rumah tangga di Desa Pantenan dan Desa Campurejo, Kecamatan Panceng, misalnya. Proses kehidupan sehari-hari yang tak pernah berhenti, memposisikan mereka pada situasi dan kondisi bagaimana mempertahankan kelangsungan hidup dalam situasi yang serba sulit. Uang yang sedikit diirit sedemikian rupa.
Bagi mereka, untuk membeli lauk pauk selain tempe tahu saja adalah hal yang mewah. Jika pun harus daging, hanya satu ons saja. Belum lagi kebutuhan lainnya dan memikirkan bayar cicilan kredit kebutuhan sehari-hari, bayar listrik. Beberapa orang lainnya, dibikin pusing oleh pembayaran angsuran motor.
Pun begitu, meski tidak banyak yang tahu perihal pemilukada, tidak berarti tak punya pilihan.
“Yang kami ketahui, di Gresik akan akan ada pilihan bupati dan kita semua harus mencoblos untuk memilih seorang pemimpin,” kata sejumlah lelaki yang mengaku bekerja serabutan, di kala pertanian tak bisa lagi diharapkan, di sebuah kedai.
Lantas, siapa gerangan figur idaman wong cilik ini? “Yang ‘sudah ada’ sekarang ini, biar meneruskan kepeduliannya pada wong cilik. Kalau harus memilih yang baru, nantinya dikhawatirkan akan merubah tatanan yang telah dibentuk pendahulunya,” ungkap sejumlah masyarakat calon pemilih dalam maping yang dilakukan kelompok independen sejak awal bulan ini.
Huluq memang bukan satu-satunya pilihan. Hanya saja, dari serangkaian wawancara ke sejumlah desa dengan nara sumber beragam, Sekkab Gresik yang dibayang-bayangi oleh glamor dan gemerlap, Sambari Halim, satu-satunya pesaing ’berat’ Huluq ini, terus memperoleh simpati yang besar. Huluq memang punya branch image besar. Tapi, banyak orang menyebutnya ’tak punya’ daya tarik.
“Secara pribadi kami tidak mengenal Huluq. Namun, apa yang telah dilakukan dan dikerjakannya telah memberikan arti bagi perkembangan Gresik secara menyeluruh,” tutur seorang lelaki tua di Desa Bungah, Kecamatan Bungah.
Ia hanyalah orang biasa. Seperti banyak yang lainnya, sederhana saja keinginannya: memilih pemimpin bukan lantaran seberapa banyak hartanya. Tapi, bagaimana komitmennya terhadap kesejahteraan wong cilik. Dan Huluq, disebut mereka telah mewakili karakter masyarakat lapis bawah.









