maiwanews – Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) masih berpendapat bahwa insiden pembakaran Musholla Baitul Muttaqirumah dan sejumlah Kios di Tolikara, Papua, dipicu oleh suara keras takbir yang keluar dari speaker.
Suara yang keluar dari speaker itu kata JK yang memancing reaksi Ummat Kristiani yang juga akan menggelar kegiatan keagamaan untuk melakukan tindakan anarkis.
JK menjelaskan, di Tolikara memang ada Peraturan Daerah (Perda) yang mengatakan bahwa rumah ibadah tidak boleh memakai speaker keluar. Namun kata JK, Pemda dan polisi sudah memberi izin untuk salat Idul Fitri sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.
Karena ada acara bersamaan di pihak gereja sambung JK, maka pihak Kristiani mendesak agar Perda larangan menggunakan speaker itu diberlakukan.
“Maka awal mulanya soal speaker lalu berkembang seperti itu,” kata JK dalam keterangan pers di kediaman pribadinya, di Jalan Haji Bau, Makassar, Minggu (19/7/2015).
Soal adanya dugaan tindakan keras aparat keamanan yang membubarkan aksi sebagai pemicu kerusuhan, JK membantah bahwa tidak ada kekerasan yang dilakukan kepada jamaah yang melakukan aksi penyerangan.
Menurut laporan sebut JK, justru Polisi dan Kodim yang mendorong para penyerang keluar dari jamaah Islam supaya tidak terjadi bentrok di mana tempat kejadian kebetulan berdekatan dengan kios di luar Kodim, Koramil.
Terkait dengan adanya surat edaran atau pemberitahuan yang dilayangkan Jemaat Gereja Gidi isinya berupa pada 13-17 Juli 2015 akan dilaksanakan suatu gelaran keagamaan para jemaat di wilayah tersebut, kata JK, sudah membacanya, namun terlihat ganjil.
“Dan untuk diketahui, pemerintah setempat dan polisi tidak menganggap surat itu diberlakukan, tetapi tetap memberi izin untuk melaksanakan ibadah,” kata JK.
JK menegaskan, tidak mungkin satu organisasi melarang orang melakukan ibadah dan bila bertentangan dengan aturan pemerintah jelas itu melanggar hukum.
Insiden penyerangan terhadap warga Karubaga yang tengah menjalankan Shalat Id itu terjadi pada Jumat (17/7/2015). Sekitar 70 penyerang melakukan provokasi menolak kegiatan Shalat Id dan melakukan pelemparan ke arah warga yang sedang melaksanakan shalat sekitar pukul 07.10 WIT.
Aparat keamanan berusaha menghalau para penyerang tersebut dengan memberikan tembakan peringatan. Namun aksi mereka justru semakin brutal hingga warga terpaksa berhamburan menyelamatkan diri ke Koramil setempat.
Saat Ummat Islam lari menyelamatkan diri itulah, para penyerang mulai membakar rumah dan kios termasuk Musholla Baitul Muttaqin.
Mentan Optimis Indonesia Swasembada Beras Lebih Cepat dari Target
Prabowo Pimpin Rapat Percepatan Pembentukan Koperasi Merah
Sidang Istimewa Laporan Tahunan MA, Prabowo Apresiasi Hakim
7 Tentara AS dari Perang Korea dan Vietnam Resmi Masuk 'Pentagon Hall of Heroes'
Uni Eropa Selidiki TikTok Atas Dugaan Pelanggaran Terkait Pilpres Rumania









