
maiwanews – Sabtu, 30 Oktober 2021, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menghadiri Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) Tahun 2021, di El Royal Hotel, Jl. Raya Jember KM 7 Pakistaji, Banyuwangi. Tema yang diangkat di HAI 2021 tingkat Provinsi Jawa Timur, adalah “Literasi Digital untuk Indonesia Bangkit”.
Tema yang diangkat ini merupakan upaya pemerintah untuk menyadarkan masyarakat Jawa Timur akan pentingnya melek huruf. Karena menurut data kemendikbudristek RI Tahun 2020, Prov Jatim yang buta huruf masih diangka tergolong tinggi, ada sekitar 800 ribu masyarakat yang buta aksara.
Untuk itu pemerintah berharap untuk program pendidikan keaksaraan dapat lebih menyesuaikan terhadap perubahan yang terjadi.
Tujuan kegiatan di peringatan HAI ke-56 tingkat Prov Jatim 2021 yaitu, mengumumkan kepada masyarakat yang berhubungan tentang perkembangan program keaksaraan, mengkampanyekan akan perlunya pendidikan keaksaraan untuk pembangunan di Jatim, akan terbentuknya komunikasi penggiat dan pengelola program keaksaraan untuk membangun beraksara di masyarakat Jatim.
Khofifah menjelaskan, untuk memberikan dan mengenalkan pemahaman tentang transformasi digital, terdapat empat pilar literasi, yaitu digital skill, digital culture, digital ethics, dan digital safety. Dia menambahkan, tahun lalu pernah diskusi dengan tim untuk mempersiapkan kurikulum di Kementerian Kominfo yang berkaitan tentang standart digital ethic. Karena aspek ini penting demi kesehatan mental anak kita.
Seperti contoh, disaat membaca berita online, user terlihat sekian persen tampilan website dengan gambar berbeda, seperti gambar promosi maupun gambar tampilan yang tidak pantas dikonsumsi dengan generasi penerus bangsa. Sampai kita menemukan empat kali gambar tersebut, padahal kita ingin membaca beritanya.
Gubernur mengatakan, di digital ethic terdapat digital society, yang mana digital Society sering dibicarakan para beberapa pakar. Karena digital society ini kemungkinan akan menghilangkan aspek hubungan sosial dan pertemuan tatap muka. Menurut wanita kelahiran Surabaya ini, silaturrahmi tidak bisa tergantikan, karena silaturrahmi akan memperbanyak rezeki dan banyak kedamaian.
Akan tetapi digital society telah berjalan di posisi 4.0 di masyarakat Indonesia dan sedang menuju ke 5.0. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sekarang menjadi pilot project untuk transformasi digital di Jatim dengan implementasi society 5.0. Yang akan lebih mengutamakan sisi manusianya, sehingga bisa disebut tranformasi digital dengan kearifan lokal.
Gubernur Jatim menyampaikan, banyak program yang telah dikeluarkan oleh pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk menggalakkan program literasi secara masif. Salah satunya, gerakan membaca, gerakan literasi sekolah, gerakan literasi keluarga, dan gerakan literasi masyarakat yang secara aktif memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Khofifah Indar Parawansa berharap di hari peringatan HAI ini Bupati/Walikota se Jawa Timur melakukan beberapa hal, seperti mempelajari program literasi digital untuk mempersiapkan generasi penerus yang siap menghadapi era revolusi industri 4.0, akan tetapi tetap mengaplikasikan kearifan lokal untuk setiap program. Dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara optimal dengan metode online, maka Pemerintah Pusat dan Pemprov Jatim dapat berkoordinasi untuk menjalankan program keaksaraan dan literasi digital di kabupaten/kota masing-masing.
Karena peringatan HAI dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19, Khofifah berpesan agar masyarakat tidak lengah dan menyerah, terus menerapkan 5M, prokes dan selalu berdoa. (FL)









