Khofifah Imbau Waspadai Hepatitis Akut Tanpa Etiologi

khofifah-indar-parawansa-20210629
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

maiwanews – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menghimbau agar seluruh masyarakat Jatim tidak panik akan tetapi harus sigap atas kasus Hepatitis Akut yang belum  diketahui Etiologinya atau penyebabnya.

Khofifah mengatakan, hal ini merupakan tindak lanjut dari Kementerian Kesehatan yang mengeluarkan Surat Edaran nomor HK.02.02/C/2515/2022 tentang Kewaspadaan terhadap Penemuan Kasus Hepatitis Akut yang belum  Diketahui Etiologinya (Acute Hepatitis Of Unknown Aetiology) tertanggal 27 April 2022 lalu. 

Pada 15 April 2022, Badan Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi telah mempublikasikan tentang KLB Hepatitis jenis ini. WHO mempublikasi setelah Inggris Raya melaporkan adanya peningkatan kasus signifikan pada pasien hepatitis di mana tak ditemukannya virus A-E dalam penelitian laboratorium.

Sementara kasus Hepatitis Akut yang Tidak diketahui penyebabnya ini menyerang Indonesia pada akhir April, tercatat tiga pasien anak yang dirawat di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta, meninggal dunia.

Sementara menurut Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) per 4 Mei 2022, Jatim sudah terdeteksi  114 kasus terduga Hepatitis akut yang tersebar di  beberapa kab/kota. Penyakit ini berdasarkan data yang ada tidak menyerang kelompok umur spesifik meski cenderung mengalami kenaikan jumlah pada minggu ke-14 hingga ke-17. 

Menurut Khofifah, untuk semua orang  dari dewasa sampai anak-anak wajib mengenali gejalanya, agar bisa ditangani dengan cepat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

“Baik anak kecil maupun dewasa, harus punya _awareness_ akan bahaya penyakit ini. Agar semakin cepat ditangani, untuk menghindari peluang hal yang tidak diinginkan semakin besar,” kata Khofifah di Kantor Bakorwil Malang, Kamis (05/05/2022) sore.

Orang nomor satu di Jatim ini menjelaskan, gejala klinis dari Hepatitis akut ini antara lain nyeri perut bagian bawah, diare, muntah-muntah, serta peningkatan enzim hati. Samapai saat ini, tidak ditemukan gejala demam dalam sebagian besar kasus. Ia juga mengingatkan agar tidak lengah jika ada warga  masyarakat yang mengalami demam. 

“Gejala yang ada jangan dianggap sepele. Meskipun jarang ada pasien hepatitis akut ini yang menderita demam. Masyarakat langsung memeriksakan diri ke faskes terdekat jika merasa tidak enak badan,” kata Gubernur Khofifah.

Perempuan yang perna menjabat menteri Sosial ini  menekankan akan pentingnya tindakan preventif dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta protokol kesehatan. Ia menambahkan, kira-kira hampir sama seperti saat kita prokes untuk menjaga diri dari covid-19.

Khofifah lebih lanjut menambahkan, bahwa pemerintah akan terus berusaha menangani situasi yang ada, serta semua pihak akan mengambil peran menyelesaikan masalah ini.  Jadi tegasnya bukan hanya beban yang ada di Dinas Kesehatan ataupun turunannya, melainkan juga tanggungjawab Gubernur  serta Bupati/Walikota di Jatim serta seluruh elemen masyarakat untuk mencegah Hepatitis akut jenis ini mewabah di Jatim.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Erwin Astha Triyono  juga menerangkan, untuk mengendalikan penyebaran penyakit ini, Dinkes Jatim telah melakukan koordinasi dengan kabupaten/kota dan jejaring Dinas Kesehatan, rumah sakit, serta Puskesmas.

“Kita juga membangun dan memperkuat jejaring kerja surveilans dengan lintas program dan lintas sektor. Dinkes Jatim juga terus melakukan promosi kesehatan melalui media KIE agar masyarakat dapat memahami gejala Hepatitis akut tersebut,” ujarnya.

Untuk informasi, pertanggal 21 April 2022 telah tercatat ada 169 kasus Hepatitis Akut yang tidak diketahui Etiologinya. Kasus-kasus tersebut berasal dari 12 negara yang mayoritas berada di Benua Eropa, yaitu Inggris dengan 114 kasus, Spanyol dengan 13 kasus, Israel dengan 12 kasus, Amerika Serikat dengan 9 kasus, Denmark dengan 6 kasus, dan Irlandia dengan kurang dari 5 kasus. 

Sedangkan Belanda dan Italia masing-masing melaporkan 4 kasus, di mana Perancis dan Norwegia masing-masing 2 kasus. Sementara  Romania dan Belgia baru mencatat 1 kasus. 

Dari Ke-169 kasus tersebut terjadi pada anak usia 1 bulan sampai dengan 16 tahun. Tujuh belas anak atau sekitar 10% dari total pasien membutuhkan transplantasi hati. (i)