Penggiat Urusan Margasatwa AS dan Tiongkok Teken Kerja Sama Terkait Panda Raksasa

20240226-panda01-san-diego-pub18jan2024
Panda di Kebun Binatang San Diego, Amerika Serikat. Kamis, 18 Januari 2024. (Foto: San Diego Zoo Wildlife Alliance/Jake Gonzales/Xiao Liwu)

maiwanews – Aliansi Margasatwa Kebun Binatang San Diego dan Asosiasi Konservasi Margasatwa Tiongkok menandatangani perjanjian kerja sama baru untuk kolaborasi panda raksasa.

SDZWA (San Diego Zoo Wildlife Alliance) mengambil langkah upaya mengembalikan panda raksasa ke Kebun Binatang San Diego dengan menandatangani perjanjian kerja sama dengan China Wildlife Conservation Association dan mengajukan permohonan izin ke pihak Layanan Ikan dan Margasatwa Amerika Serikat.

SDZWA memiliki kemitraan konservasi selama hampir 30 tahun dengan kolaborator penelitian di Tiongkok dengn fokus pada perlindungan dan pemulihan panda raksasa. Upaya kolaboratif ini telah memberikan dampak signifikan. Demikian pernyataan SDZWA dari San Diego, Kamis, 22 Februari 2024.

Dijelaskan bahwa dampak signifikan tersebut termasuk peningkatan pemahaman ilmiah mengenai biologi, perawatan dan kesehatan panda raksasa, serta kebutuhan panda untuk bertahan hidup di tengah perubahan iklim.

Perubahan iklim berkontribusi langsung terhadap penurunan peringkat panda raksasa dalam Daftar Merah Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (International Union for Conservation of Nature Red List) dari Terancam Punah menjadi Rentan pada tahun 2021.

“Kami merasa tersanjung dengan potensi peluang untuk melanjutkan upaya konservasi kolaboratif kami untuk menjamin masa depan panda raksasa, kata Dr. Megan Owen, Wakil Presiden Ilmu Konservasi Satwa Liar di SDZWA.

Kolaborasi antara SDZWA dan mitra penelitian Tiongkok telah berkontribusi pada penemuan-penemuan penting dan berjangkauan luas serta kontribusi ilmiah. Kolaborasi keduanya memainkan peran penting dalam upaya Tiongkok untuk membawa panda raksasa ikonik dan dicintai ini kembali dari ambang kepunahan.

Hal ini mencakup temuan-temuan penting mengenai perilaku dan fisiologi reproduksi panda raksasa, kebutuhan nutrisi, kebutuhan habitat dan penelitian genetika, serta bidang-bidang fokus lainnya. Upaya tersebut termasuk mengembangkan susu formula panda raksasa dan teknik konservasi neonatal lainnya.

Berbagai upaya ini secara dramatis menaikkan tingkat kelangsungan hidup anak panda di penitipan anak dari 5% menjadi 95%. Inseminasi buatan juga berhasil dilakukan untuk pertama kalinya terhadap panda raksasa di luar Tiongkok.

Selain itu, penelitian juga menyumbangkan keahlian berharga untuk upaya melacak panda raksasa liar di ‘Cagar Alam Nasional Foping’ (Foping National Nature Reserve) menggunakan teknologi GPS (Global Positioning System). Cagar alam dan taman nasional ini terletak di Pegunungan Qinling, Provinsi Shaanxi, Tiongkok.

Meskipun status konservasi panda raksasa semakin membaik, masih banyak upaya perlu dilakukan untuk memastikan mereka tetap berada di jalur pemulihan dengan populasi sehat dan berkembang.

Perubahan iklim, fragmentasi habitat, dan isolasi populasi merupakan beberapa tekanan panda raksasa. Usulan strategi konservasi SDZWA bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan ketahanan populasi panda raksasa di beberapa populasi terkecil dan paling terisolasi di mana panda rentan terhadap kepunahan.

“Panda dalam perawatan kami dan rekan-rekan Tiongkok di fasilitas konservasi memainkan peran penting sebagai jaminan terhadap kepunahan dan hilangnya keragaman genetik di habitat aslinya, serta sebagai sumber populasi untuk reintroduksi,”, kata Dr. Owen.

Kemitraan keduanya selama beberapa dekade telah menjadi contoh kuat tentang bagaimana mencapai tujuan di mana dulunya dianggap mustahil. “Aliansi Margasatwa Kebun Binatang San Diego mempunyai posisi unik untuk berkolaborasi mencapai tujuan bersama dalam menciptakan masa depan berkelanjutan bagi panda raksasa”, papar Dr. Owen. (z/SDZWA)