KTT ASEAN Ke-15: Memperkuat Komitmen Internal dan Eksternal ASEAN

Untuk kedua kalinya di tahun 2009 ini, Hua Hin, Thailand menjadi tuan rumah penyelenggaraan KTT ASEAN dan rangkaian pertemuan terkait lainnya pada 22 sampai 25 Oktober 2009. Apabila KTT ke-14 pada akhir Februari 2009 merupakan KTT untuk isu-isu internal ASEAN, maka pada KTT ke-15 ini selain dibahas masalah-masalah internal ASEAN juga dibahas hubungan ASEAN dengan seluruh Mitra Dialognya. Oleh sebab itu, KTT ke-15 ini juga diisi dengan KTT ASEAN dengan China, India, Jepang, Korea, Plus Three (China-Jepang-Korea), dan KTT negara-negara Asia Timur (meliputi ASEAN, Australia, China, India, Jepang, Korea, dan New Zealand).

Bertempat di Hotel Dusit Thani Hua Hin, para Menteri Ekonomi dan Kepala Negara ASEAN membahas sejumlah isu internal ASEAN. Pada pilar ekonomi, perhatian banyak diberikan pada pelaksanaan ASEAN Economic Community (AEC) Blueprint. Secara khusus, para Menteri Ekonomi ASEAN dan AEC Council membahas laporan pelaksanaan AEC Blueprint periode 1 Januari 2008 – 30 September 2009 yang tertuang dalam AEC Scorecard.
Laporan dalam bentuk scorecard ini selanjutnya disampaikan kepada Kepala Negara ASEAN dalam kesempatan Informal Working Dinner pada 23 Oktober malam. Para Kepala Negara menyambut baik sejumlah pencapaian yang dicatat yang secara kolektif menghasilkan implementation rate ASEAN sebesar 73.33%. Pencapaian yang dicatat oleh para Kepala Negara antara lain adalah penghapusan tarif yang menurunkan rata-rata tarif ASEAN dari 4,43% pada tahun 2000 menjadi 1,32% pada tahun 2008.

Pencapaian lain yang dicatat adalah dicapainya kesepakatan Mutual Recognition Arrangements (MRA) di bidang jasa akuntansi, praktisi medis dan praktisi gigi, kesepakatan multilateral ASEAN di bidang jasa angkutan udara dan integrasi penuh jasa pengiriman udara, serta penyelesaian sejumlah perjanjian dengan Mitra Dialog ASEAN, seperti ASEAN-Jepang (barang), Australia dan New Zealand (komprehensif), India (barang), China dan Korea (investasi), maupun proses menuju realisasi komitmen CEPT-AFTA pada tahun 2010 (liberalisasi seluruh produk dalam kategori Inclusion List). Kemajuan juga dicatat di bidang-
bidang Hak Kekayaan Intelektual khususnya untuk mendorong kegiatan UKM, persaingan usaha, perlindungan konsumen, penyederhanaan Ketentuan Asal Barang, serta upaya pembentukan Dewan UKM ASEAN pada tahun depan. Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu menegaskan, ”Kemajuan yang dicapai ini menunjukkan kesungguhan ASEAN untuk mendorong proses integrasi ekonomi menuju masyarakat ekonomi ASEAN pada
tahun 2015, dan perlu diingat bahwa kemajuan ini dicapai di tengah keadaan krisis keuangan yang dampaknya dialami oleh semua negara di dunia.”

Para Kepala Negara selanjutnya memberikan arahan kepada para Menteri agar upaya implementasi AEC Blueprint terus ditingkatkan sesuai kerangka waktu yang telah disepakati. Beberapa program kerja yang belum dapat memenuhi target waktu implementasi karena masalah teknis antara lain adalah penerapan ASEAN Cosmetic Directive, operasionalisasi National Single Window di seluruh negara ASEAN-6,
pemberlakuan efektif ASEAN Trade in Goods Agreement, ASEAN Comprehensive Investment Agreement, the 7th Package of Commitment under the ASEAN Framework Agreement on Services, serta implementasi ASEAN Framework Agreement on the Facilitation of Goods in Transit yang berdampak pada tertundanya proses ratifikasi sejumlah protokol. ”Pelaksanaan segera dari hal-hal yang belum diimplementasikan tersebut sangat
penting, terutama untuk terus mendorong kegiatan perdagangan dan investasi intra-ASEAN dan agar ASEAN dapat memfokuskan diri pada agenda berikutnya sesuai kesepakatan yang tertuang dalam AEC Blueprint,” ujar Mendag.

Sementara itu, KTT ASEAN dengan Mitra Dialognya berlangsung dalam suasana hangat dan produktif. Dapat dirasakan bahwa Mitra Dialog ASEAN tetap memberikan perhatian besar pada ASEAN sebagai pemain kunci di kawasan. Mulai dari Menteri Perdagangan India, Perdana Menteri Japan dan Perdana Menteri China serta Perdana Menteri Australia menegaskan dukungannya terhadap konsep ASEAN Centrality, dimana ASEAN harus memegang peran kunci dalam proses integrasi ekonomi di kawasan Asia Timur ini. Mengomentari besarnya keinginan negara-negara Mitra Dialog untuk berintegrasi dengan ASEAN, Menteri Mari menyatakan, ”Sentralitas ASEAN ini dapat diwujudkan dan dijaga hanya bila ASEAN sendiri secara internal tetap memegang dan melaksanakan komitmennya. Oleh karena itu, para Kepala Negara merasa perlu menegaskan kembali
tekad masing-masing untuk melaksanakan berbagai perjanjian internal ASEAN secara penuh dan tepat waktu. Tentu banyak tantangan yang akan kita hadapi namun kita harus siap untuk mengatasinya dengan melakukan berbagai pembenahan menuju daya saing yang lebih baik.

Hal yang menarik untuk dicatat adalah dilangsungkannya Public-Private Sector Policy Dialogue dalam kesempatan Pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN pada 22 Oktober 2009. Policy Dialogue ini merupakan yang kedua kalinya digelar oleh para Menteri Ekonomi setelah yang pertama dilangsungkan pada bulan Agustus 2009 dengan fokus pada sektor tekstil dan garmen. Publi-Private Sector Policy Dialogue di Hua Hin ini difokuskan pada sektor otomotif. Ketua ASEAN Automotive Federation dari Malaysia, Dato Aishah Ahmad,
menyampaikan pemaparan mengenai kondisi sektor ini, baik dari segi produksi dan penjualan, yang mengalami penurunan pada tahun 2009 akibat krisis keuangan dunia dan menurunnya daya beli masyarakat. ASEAN Automotive Federation selanjutnya menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada para Menteri Ekonomi ASEAN untuk mendapatkan perhatian. Beberapa rekomendasi ini antara lain agar seluruh negara anggota
ASEAN menepati komitmen penghapusan tarif produk dalam Inclusion List CEPT-AFTA pada Januari 2010; dihapuskannya persyaratan ketat, standard unik dan ketentuan administratif yang cenderung restriktif untuk mengutamakan parts dan komponen buatan sendiri; dan segara diwujudkannya ASEAN Single Window.

Menutup penjelasannya, Mendag menggarisbawahi bahwa rekomendasi yang disampaikan sangat penting dan menunjukkan komitmen sektor ini untuk terus mendorong proses integrasi industri di lingkungan ASEAN. Semangat yang sama juga kita rasakan pada saat melakukan dialog dengan industri tekstil dan garmen ASEAN di sela-sela pertemuan para Menteri Ekonomi ASEAN di Bangkok pada bulan Agustus lalu. (depdag)