Pertemuan ke-4 ASEAN Regional Forum Experts and Eminent Persons (ARF EEPs)Bali, 12-15 Desember 2009

Pertemuan ke-4 ASEAN Regional Forum (ARF) Experts and Eminent Persons (EEPs) yang diketuai bersama Indonesia dan Selandia Baru akan dilaksanakan di Bali pada tanggal 14-15 Desember 2009. Pertemuan akan dibuka secara resmi oleh Wamenlu Triyono Wibowo. Pertemuan EEPs dilaksanakan dalam rangka melaksanakan mandat dari Pertemuan Tingkat Menteri (PTM) ke-16 di Phuket, Thailand, 23 Juli 2009. Dalam PTM-16 tersebut, para pejabat peserta ARF ditugaskan untuk mulai merealisasikan ARF Work Plan on Preventive Diplomacy yang didasarkan pada Matrix of Relevant Recommendations for Follow Up from the Study on Preventive Diplomacy dan dokumen ARF terkait lainnya. Dalam kaitan ini para menteri ARF telah meminta ARF Experts and Eminent Persons (EEPs) untuk memberikan pandangan mereka tentang elemen-elemen work plan dimaksud.
Pertemuan EEPs di Bali mengambil tema Preparing an ARF Work Plan on Preventive Diplomacy: Moving Forward from Confidence Building Measures to Preventive Diplomacy. Pertemuan antara lain akan membahas kemungkinan pembuatan mekanisme preventive diplomacy (PD). Pertemuan akan dihadiri lebih dari 60 orang yang terdiri dari para ahli (experts and eminent persons) dan pejabat dari 27 peserta ARF. Sementara itu EEPs Indonesia adalah Dubes Wiryono Sastro Handoyo, Dr. Rizal Sukma (Executive Director CSIS), dan Jusuf Wanandi (Chairman of CSCAP Indonesia).

ARF yang dibentuk pada tahun 1994 merupakan forum konsultasi dan dialog negara-negara Asia-Pasifik mengenai masalah-masalah politik dan keamanan. Peserta ARF saat ini adalah 10 negara anggota ASEAN, 10 Mitra Wicara ASEAN (Amerika Serikat, Australia, Kanada, China, India, Jepang, Korea Selatan, Rusia, Selandia Baru dan Uni Eropa), ditambah Papua New Guinea, Timor Leste, Mongolia, Korea Utara, Bangladesh, Pakistan, dan Sri Lanka.

Saat ini ARF dalam fase transisi dari tahapan confidence building measures (CBM) ke PD seraya tetap memperdalam kerjasama dalam CBMs. Adapun kerjasama konkrit dalam kerangka ARF yang telah terekam dan masih berlangsung antara lain di bidang keamanan maritim (maritime security) dan kontra-terorisme (counter-terrorism) yang mengarah pada percepatan transisi dari CBMs ke PD. Dalam konteks PD, saat ini fokusnya masih pada upaya mencari mekanisme pencegahan dini atas konflik dan identifikasi sumber terjadinya ancaman dan konflik. Dalam kaitan ini, pertemuan EEP di Bali menemukan relevansinya dalam rangka membangun kerja sama politik dan keamanan yang lebih maju baik dalam traditional security maupun non-traditional security issues. Dengan bertambah matangnya ARF, semakin disadari perlunya untuk lebih mempertimbangkan PD sebagai wahana untuk mengatasi isu keamanan tradisional maupun non-tradisional.
Dengan elemen-elemen ARF Work Plan on Preventive Diplomacy yang coba dibangun dalam pertemuan tersebut, diharapkan pembuatan work plan dimaksud akan semakin lapang untuk direalisasikan. Dengan work plan tersebut, di masa datang ARF diharapkan akan mempunyai mekanisme dalam menerapkan praktek-praktek PD; seperti mediasi, jasa baik (good offices), dan misi-misi pencari fakta (fact finding missions).
BERITA LAINNYA

.