maiwanews – Arab Saudi mengejutkan dunia atas keputusannya Jumat (18/10/2013) menolak menduduki kursi di Dewan Keamanan PBB. Arab Saudi menilai DK PBB telah gagal total dalam menjaga perdamaian dan keamanan dunia serta gagal melakukan reformasi pada DK PBB.
Diberitakan Arab News, Minggu 20 Oktober 2013, Kementerian Luar Negeri Saudi menyampaikan empat alasan mengapa mereka menolak kursi Dewan Keamanan PBB.
Pertama, metode kerja saat ini yakni mekanisme dan standar ganda Dewan Keamanan telah mencegahnya untuk bertanggungjawab dalam memelihara perdamaian dan keamanan internasional.
Kedua, semua upaya internasional untuk mereformasi DK PBB, di mana Arab Saudi telah mengambil bagian, telah gagal.
Ketiga, kegagalan DK PBB untuk menyelesaikan masalah Palestina yang sudah berlangsung selama 65 tahun, di mana beberapa perang telah meletus dan mengancam perdamaian dan keamanan internasional.
Keempat, kegagalan DK PBB untuk menyatakan Timur Tengah sebagai wilayah yang bebas dari senjata pemusnah massal.
Keanggotaan Dewan Keamanan dan metode kerjanya saat ini dinilai masih merupakan warisan masa lalu dan tidak lagi sesuai dengan realitas yang ada sekarang. Meskipun geopolitik telah berubah secara drastis, namun Dewan tidak berubah sejak tahun 1945, ketika pemenang perang menciptakan sebuah Piagam untuk kepentingan mereka dan memberikan keanggotaan tetap dengan hak veto untuk lima negara saja.
Kemlu Saudi berpendapat, kelima anggota tetap DK PBB itu tidak lagi merupakan negara adidaya utama. Dicontohkan klaim Rusia sebagai negara adikuasa, padahal status tersebut adalah peninggalan dari masa lalu ketika negara itu masih bernama Uni Soviet dengan partisipasinya dalam perang melawan Hitler.
Majelis Umum PBB sejak tahun 1993 telah berusaha untuk mereformasi Dewan namun belum mampu mencapai kesepakatan. Sejumlah negara seperti India, Jepang, Brazil dan Indonesia juga menginginkan status keanggotaan tetap di DK PBB, namun upaya reformasi itu tidak pernah terjadi.









