
maiwanews – Reagen selama ini dipersepsikan publik sebagai unsur dominan dalam penentuan harga tes PCR. Meski sudah turun berkali-kali, harga tes PCR jadi Rp275 ribu untuk Jawa-Bali dan Rp300 ribu di luar Jawa-Bali, dinilai masih terlalu mahal berdasarkan harga reagen.
Sebagai pimpinan perusahaan yang selam ini diketahi memproduksi alat tes PCR, Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir merasa perlu menjelaskan struktur biaya yang membentuk harga tes PCR.
Reagen kit PCR kata Honesti, adalah cairan yang digunakan untuk mendukung pengujian tes PCR swab maupun alternatif gargle PCR. Reagen ucapnya, biasanya ditambahkan untuk melihat reaksi kimia, salah satunya dalam diagnosis infeksi virus Covid-19.
Menurut Honesti, sejak Februari 2021 hingga saat ini, harga di e-katalog yang masih tayang untuk reagen kit PCR adalah Rp 193.000 termasuk PPN. Selanjutnya kata dia, pihaknya sedang dalam proses pengajuan harga baru yakni menjadi Rp 89.100 termasuk PPN.
Dengan harga Reagen sebesar Rp 90.000 menurut Honesti, maka harga tarif layanan PCR di Bio Farma sendiri menjadi sekitar Rp 275.000. Namun dikatakan dia, kebijakan dan penetapan tarif pemeriksaan PCR adalah kewenangan dari Kementerian Kesehatan.
“Kebijakan dan penetapan tarif pemeriksaan PCR adalah kewenangan dari Kementerian Kesehatan,” ungkap Honesti dalam keterangan tertulisnya yang dikutip Kamis (11/11/2021).
Karena menurutnya, ada beberapa komponen lainnya yang dapat memengaruhi harga tersebut seperti RNA kit ekstraksi, Bahan Material Habis Pakai (BMHP), Alat Pelindung Diri (APD), serta biaya operasional maupun layanan dari masing-masing laboratorium.
Kontribusi produk Bio Farma sendiri seperti mBioCov-19 dan BioVTM/Biosaliva tuturnya, hanya berkisar antara 31 hingga 34 persen dari seluruh komponen pelayanan pemeriksaan PCR. Komponen lainnya sambung dia, berada di luar kendali Bio Farma.









