Meskipun didahului dengan riwayat penyakit yang kompleks dan dalam kurun waktu yang cukup panjang, tak ayal, kematian KH. Abdurrahman Wahid, yang biasa disapa Gus dur pada hari rabu 30 Desember 2009, sontak membuat masyarakat Indonesia terkejut.
Kematian yang ditangisi banyak orang bukan hanya karena Gus Dur sebagai mantan presiden RI, tapi juga karena sepak terjang Almarhum semasa hidupnya dalam perjuangan mengangkat hak – hak kaum minoritas, meski juga tak kurang mendapat kecaman bahkan cacian. Namun yang menarik adalah kematian Mantan Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa tersebut terjadi pada saat bangsa Indonesia sedang mengalami kegaduhan politik sambung menyambung di awal pemerintahan SBY yang ke dua.
Kegaduhan yang diawali dengan penangkapan ketua KPK Antazari Azhar, lalu Bibit Slamet Riyanto dan Chandra Hamzah, masing – masing wakil ketua KPK, lalu dilanjutkan dengan kasusu Bank Century. Dalam kasus Century terbagi dalam beberapa babak. Babak terbentuknya Pansus bank Century, konprensi pers LSM Bendera, perseteruan Ical dan Sri Mulyani, pengungkapan data oleh PPATK, hingga yang terakhir yang cukup panas adalah peluncuran buku George Adi Chondro “Gurita Cikeas”.
Semua babak yang menyita pembicaraan masyarakat luas dan pemberitaan semua media praktis terhenti semenjak kematian Gus Dur. Kematian tokoh utama NU tersebut menyita pemberitaan semua media, bahkan ada televisi yang menayangkan berita kematian tersebut non stop dalam bentuk “breaking News”.
Pengalihan konsentrasi berita hangat tersebut menjadi pendingin suasana panas politik tanah air, paling tidak Gus Dur tanpa sengaja dengan sangat gemilang berhasil melakukan “Cooling Down” politik, paling tidak untuk beberapa hari ke depan. Sebuah “sumbangsih terakhir” Gus Dus untuk bangsa. Selamat Jalan Gus.
.









