Disindir Hanya Tukang Sulam, Ini Prestasi PTDI yang Membanggakan

maiwanews – Nama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) kembali mencuat ke publik menyusul rencana TNI Angkatan Udara membeli sejumlah helikopter VVIP jenis AW101 buatan Italia-Inggris.

Rencana pembelian helikopter VVIP itu dikritik sejumlah pihak karena tidak memprioritaskan penggunaan helikopter buatan dalam negeri dalam hal ini PTDI, apalagi BUMN yang berbasis di Bandung itu juga memproduksi heli dengan spesifikasi setara.

Menjawab kritikan itu, Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna mengatakan, pihaknya tidak membeli helikopter buatan PTDI, karena memiliki pengalaman buruk dimana sejumlah pesawat pesanan TNI terlambat dikirim.

Bahkan dalam sebuah acara diskusi di tvone, politisi PDI Perjuangan yang juga anggota DPR RI Effendy Simbolon menyindir perusahaan yang dulu bernama PT Nurtanio itu hanya seperti tukang sulam dalam dunia industri dirgantara.

Anggota Komisi I DPR RI yang juga merupakan polisi PDI Perjuangan Tubagus Hasanuddin meminta semua pihak termasuk TNI tak memandang sebelah mata kemampuan PTDI dalam memproduksi pesawat, helikopter maupun komponen kedirgantaraan lainnya.

Pada era 1980-an kata TB Hasanuddin, PTDI (dulu IPTN) bersama CASA (Construcciones Aeronáuticas SA Spanyol) telah melakukan rekayasa teknik pembuatan sayap pesawat NASA Airfoil menjadi PTDI Airfoil tipe NACA 653-218 yang sampai hari ini dipakai oleh pesawat CN-295.

Sayap buatan PTDI itu menurut TB Hasanuddin, telah disertifikasi oleh badan sertifikasi nasional dan internasional seperti Direktorat Jenderal Perhubungan Udara RI, Institut Nasional untuk Teknologi Dirgantara Spanyol (INTA), dan Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA).

TB Hasanuddin melanjutkan, pada era tahun 2000, PTDI dipercaya menjadi pemasok tunggal rekayasa manufaktur sayap bagian depan pesawat komersial Airbus A380 dan A320, dengan produksi per bulan sekitar 40 set per tipe. Diaktakan dia, itu merupakan pesanan Spirit AeroSystems Inggris yang merupakan pemasok Airbus Group –pabrik pesawat terbang sipil yang bermarkas di Perancis.

Kini, sambung TB Hasanuddin, PTDI bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) melakukan rekayasa teknik dan manufaktur pesawat perintis bermuatan 19 penumpang, yakni N-291.

Dalam situs resminya disebutkan, selama ini PTDI juga menjadi subkontraktor industri-industri pesawat terbang besar di dunia seperti Airbus Eropa, Boeing dan General Dynamics asal Amerika Serikat, serta Fokker Belanda.

Selain memproduksi dan merakit pesawat, termasuk helikopter, PTDI juga dikenal mumpuni dalam membuat senjata dan pemeliharaan mesin-mesin pesawat.

Sementara helikopter buatan PTDI yang diharapkan dibeli TNI AU sebagai heli VVIP adalah jenis EC725 Caracal atau Super Cougar yang merupakan pengembangan dari Super Puma, helikopter yang lisensinya dipegang Airbus Helicopters dan telah dirakit PTDI sejak 1990-an.

Dikatakan TB Hasanuddin, EC725 yang telah dirombak menjadi helikopter VVIP, telah digunakan oleh 32 kepala negara di dunia antara lain Aljazair, Malawi, Angola, Meksiko, Azerbaijan, Maroko, Brazil, Nepal, Kamerun, Oman, Chile, Panama, China, Singapura, Ekuador, Korea Selatan, Perancis, Spanyol, Gabon, Turki, Georgia, Turkmenistan, Jerman, Arab Saudi, Venezuela, Jepang, Vietnam, Zaire, Kuwait, Zimbabwe.

Direktur Utama PTDI Budi Santoso berharap agar presiden Joko Widodo (Jokowi) merubah keputusan dengan membeli helikopter buatan anak bangsa. Menurut Budi, jika presiden RI saja tidak mau gunakan heli buatan sendiri, bagaimana PTDI mempromosikan helikopter itu ke pimpinan negara lain?

Lalu mengapa PTDI disebut hanya tukang sulam di industri pesawat terbang oleh Effendy Simbolon? (andi yulham)