Hadapi ACFTA, RI Punya CPO dan Karet Alam

Jakarta – Pemberlakuan Asean – China Free Trade Agreement (ACFTA) benar – benar membuat pelaku beberapa jenis industri dalam negeri kelimpungan. Beberapa jenis industri seperti tekstil bahkan sudah menuai dampaknya dengan melakukan PHK.

Akibatnya, banyak kalangan yang mendesakkan kepada pemerintah agar pemberlakuan FTA ditunda, dan pemerintah nampaknya mulai merespon usulan tersebut.

Di sisi lain, beberapa sektor justru masih bisa diandalkan sekaligus diuntungkan seperti ekspor hasil perkebunan dan bioteknologi. Pemerintah sendiri dalam mengejar target pertumbuhan 5,5 – 5,8 % tahun ini, justeru menjadikan ekspor sebagai andalan.

Indonesia masih menjadi pengekspor karet alam dan Minyak Kelapa Sawit (CPO) utama di dunia. Nilai ekspor karet mentah Indonesia mencapai 2,5 milyar dollar AS, bahkan nilai ekspor CPO lebih dari 13 milyar dollar AS. Peluang peningkatan nilai ekspor tersebut, dapat ditingkatkan lagi dengan memberi perhatian yang lebih serius terhadap sektor – sektor andalan itu, sambil terus mencari solusi terhormat terhadap kesulitan beberapa jenis idustri dalam negeri dalam menghadapi persaingan harga dengan produk – produk China.

Karena kalau pemberlakuan FTA benar ditunda, meskipun jalannya cukup panjang, agak sulit membayangkan Indonesia masuk pada kelompok pemberlakuan ACFTA tahap ke dua bersama negara anggota baru Asean seperti Laos, Kamboja, Vietnam dan Birma pada tahun 2015.

BERITA LAINNYA

.