John Bolton Sebut Rusia Keliru karena Lebih Dekat ke China

20190914-vladimir-putin-xi-jinping-brics-summit-brasil
Presiden China Xi Jinping (depan kiri) dan Presiden Rusia Vladimir Putin (depan kanan).

maiwanews – Mantan Penasihat Keamanan Nasional AS (Amerika erikat) John Bolton Sabtu 16 Oktober mengatakan bahwa jalur strategis pilihan Moskow keliru karena membangun hubungan lebih kuat dengan Beijing daripada memperbaiki hubungan dengan AS dan Eropa Barat. Pernyataan itu disampaikan dalam acara televisi RT’s Going Underground.

Ia menyebut keamanan Rusia harusnya bergerak ke Barat, bukan ke Timur. Kepentingan jangka panjang Rusia bukanlah bersekutu erat dengan China. Dengan memisahkan diri dari potensi hubungan lebih dekat dengan Barat setelah runtuhnya Uni Soviet, Bolton menilai telah hilang banyak waktu dan kesempatan.

Rusia punya banyak minyak dan senjata strategis, semua itu dengan senang hati dijual ke China, tapi Rusia dinilai membuat keputusan sangat buruk dengan membuang bagiannya di masa depan dengan lebih dekat ke China.

Memilih China daripada kekuatan Barat dapat menempatkan Moskow dalam bahaya, pada akhirnya kehilangan kendali atas sebagian besar wilayah Rusia di sebelah timur Ural.

Bolton menyalahkan keengganan AS untuk merundingkan perjanjian kontrol senjata baru dengan Rusia atas kebangkitan China sebagai kekuatan nuklir utama. Dia mengatakan bahwa selama Perang Dingin, kesepakatan semacam itu pada dasarnya adalah negosiasi bipolar antara AS dan Rusia, meskipun beberapa negara lain memiliki beberapa nuklir.

Kemampuan China di bidang nuklir berkembang pesat. Jika ingin melakukan negosiasi senjata strategis baru dengan Rusia, China harus disertakan. “Tidak masuk akal untuk berpura-pura bahwa kita masih hidup dalam Perang Dingin, era nuklir bipolar”, ungkap Bolton. (z/RT)