Pemilukada Gresik Dibayang-bayangi Golput dan Politik Uang

GRESIK – Helat pemilukada Gresik untuk bupati-wakil bupati periode 2010-2015 yang rencananya akan diputar pada 28 Mei mendatang dibayang-bayangi oleh aksi golput dari Logo KPUmasyarakat calon pemilih.

Sinyalamen ini dikemukakan sejumlah calon yang lebih suka bekerja daripada nyoblos di balik suara atau golput. Pemilukada, menurut sejumlah warga, hanya menguntungkan golongan tertentu saja. Sedang masyarakat hanya dimobilisasi. Begitu selesai dilupakan sudah oleh calon yang telah jadi.

Dari serangkaian wawancara dengan sejumlah masyarakat yang tersebar di Kecamatan Dukun, Bungah, Benjeng dan Kecamatan Benjeng, serta sebagian besar yang tinggal di perkotaan, disebutkan yang paling beruntung dari momen politik spolitik lima tahunan ini adalah yim sukses (TS) dan PNS.

“Siapa pun yang jadi bupati sama saja. Yang enak tetap TS, PNS, pengusaha, guru-guru itu bayaranya setiap tahunn naik. Saya dan masyarakat lainya yang sederajat sama tetap saja melarat,” ungkap Amanu, warga di Kecamatan Bungah

Hal senada diungkapkan pula para pedagang kaki lima (PKL) di dalam kota berjuluk kota pudak tersebut.

“Pemilukada hanyalah perebutan kekuasaan dan janji-janji manis belaka, lantaran tidak pernah ada yang kongkrit. Buktinya, saya dan pemilik warung lainya hidupnya pas-pasan dan tidak pernah mendapat apa-apa dari kebijakan pemerintah seperti yang pernah dijanjikan saat mereka kampanye,” tukas Deny, pengelola warung makan di seputaran prempatan Kebomas, Jumat (16/4)

Harapan calon pemilih akan adanya ‘distribusi’ uang dari para calon nampaknya akan terwujud. Isu yang berkembang menyebutkan, para calon sudah mempersiapkan “bom-boman” hingga miliaran rupiah mendekati pencoblosan nanti. Dalam waktu dekat ini para tim sukses mengaku tidak akan mengeluarkan uang terlalu banyak, karena warga sekarang yang diingat hanya pemberian uang terakhir.
“Kita sudah menyiapkan bom-boman (bagi-bagi uang-red). Tinggal menunggu waktunya saja. Karena uang masih menjadi penentu siapa yang bakal terpilih nanti,” ungkap salah satu tim sikses cabup yang terang-
terangan.

Bahkan bom-boman uang pada detik-detik pencoblosan itu dianggap sebagai final perebutan suara. Saat ini sejumlah tim sukses yang berangkat dari partai abangan mulai bergerilya di basis-basis pemilih tradisional yang masih kenthal dengan ke NU-anya. “Kita akan perang dibasis-basis nahdliyin. Seperti di Gresik utara dan Bawean yang menjadi kantong-kantong peilih tradisional,” tandasnya

Menyikapi isu tersebut, Panwaskab Gresik juga siap menangkap para siluman yang dipasang oleh sejumlah tim sukses yang memang sengaja disiapkan untuk melakukan praktik politik uang.

“Hal itu memang selalu terjadi jika pilkada berlangsung. “Kami akan memaksimalkan panwascam seoptimal mungkin untuk mengawasinya, atau bila perlu menangkap basah pelakunya,” ancamnya.

Sayangnya pada prakteknya pelakunya sulit dibawa ke pengadilan karena peraturan yang diemban oleh Panwaskab masih belum menjangkau soal tersebut. Sebab biasanya tim sukses sudah menyiapkan orang khusus untuk melakukan money politik diluar tim sukses resmi mereka.

“Kita memang selalu kesulitan, karena saat kami menangkap ternyata mereka bukan masuk tim sukses resmi, sehingga tidak bisa diproses hingga kepengadilan,” tukas pihak Panwaslu.