maiwanews – Tanggal 15 Oktober 2013, pasangan Gubernur Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), genap setahun memerintah. Banyak yang sudah yang dicapai namun sudah pasti banyak yang belum atau masih dalam proses.
Sejumlah program jangka pendek Jokowi-Ahok seperti pembenahan pedagang kali lima, Kartu Jakarta Pintas (KJP), Kartu Jakarta Sehat (KJS), pembenahan birokrasi, peningkatan APBD, dan revitalisasi waduk dan kali, dinilai warga masyarakat sudah memberikan hasil yang menggembirakan.
Namun semua pencapaian yang ditorehkan Jokowi-Ahok dalam setahun bekerja nampaknya belum mampu memberikan kesan bagi sejumlah orang lainnya. Perbedaan penilaian itu mungkin karena perbedaan cara pandang maupun definisi tentang standar keberhasilan sesorang dalam memimpin, atau bisa jadi juga karena ada subjektifitas pada kepentingan tertentu.
Tapi apapun itu, Pro-kontra terhadap kinerja Jokowi-Ahok tidak diperdulikan oleh sebagian besar masyarakat. Hal itu dibuktikan oleh survei yang dilakukan oleh sebuah televisi swasta yang menyebutkan bahwa tingkat kepuasan masyarakat terhadap setahun kinerja Jokowi-Ahok terutama program jangka pendek, cukup tinggi bahkan sangat tinggi.
Tetapi terhadap program yang sifatnya jangka panjang seperti mengatasi banjir dan kemacetan, tentu saja belum akan tampak hasilnya dalam waktu dekat. Lalu apa sebenarnya yang membuat sosok Jokowi-Ahok begitu disukai masyarakat hingga membuat keduanya begitu populer bahkan melampaui popularitas tokoh yang jauh lebih senior dan sejumlah tokoh penting di negeri ini?
Di sinilah rahasia keberhasilan duet Jokowi-Ahok sesungguhnya. Kedua tokoh berbeda latar belakang partai politik (parpol), karakter maupun budaya ini mampu membangun harapan yang begitu tinggi bagi masyarakat banyak hanya dalam tempo yang relatif singkat, setahun. Harapan itu muncul karena adanya kepercayaan yang besar.
Dengan gayanya masing-masing, Jokowi-Ahok dalam bekerja maupun berucap terlihat tanpa beban, apa adanya dan tanpa kepentingan kecuali hanya untuk memajukan Jakarta dan seluruh warganya yang super majemuk. Alhasil, keduanya secara gemilang berhasil menciptakan kepercayaan publik dalam skala yang sangat tinggi.
Keduanya sukses menggunakan teknik komunikasi publik yang sederhana namun sangat cerdas. Masyarakat dari semua lapisan dengan mudah menangkap pesan bahwa apa yang dilakukannya sungguh-sungguh bukan untuk kepentingan pribadinya dan kelompoknya apalagi untuk kepentingan pemilik modal dan orang kuat lainnya.
Nah, kalau tingkat kepercayaan masyarakat sudah sampai pada tahap ini, maka tidak penting lagi berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang pemimpin untuk mewujudkan janji-janjinnya. Karena hanya dengan kepercayaan, orang mampu memelihara harapan tetap ada meski untuk waktu yang lama. (Andi Yulham)









