UNICEF: Jumlah Rekrutan Anak Haiti oleh Kelompok Bersenjata Meningkat 70 Persen

20241125-ilustrasi-bocah-prod25nov2024
Ilustrasi anak kecil, Senin, 25 November 2024. (z/Blackbox)

maiwanews – Jumlah rekrutan anak Haiti oleh kelompok bersenjata mengalami peningkatan hinga 70 persen dalam 1 tahun. Demikian pernyataan UNICEF dari Port-au-Prince, New York, hari Minggu, 24 November 2024, waktu setempat.

Dalam pernyataan resminya, UNICEF menyebutkan, lonjakan ini belum pernah terjadi sebelumnya, tercatat antara kuartal kedua tahun 2023 dan 2024, menunjukkan krisis perlindungan semakin memburuk bagi anak-anak di Kepulauan Karibia di mana saat ini dilanda kekerasan. Hingga setengah dari semua anggota kelompok bersenjata dewasa ini adalah anak-anak.

UNICEF merupakan singkatan dari United Nations International Children’s Emergency Fund, adalah organisasi internasional, didirikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 11 Desember 1946. UNICEF bertujuan untuk menyediakan bantuan kemanusiaan dan pembangunan jangka panjang bagi anak-anak dan ibu-ibu di negara-negara berkembang. Beberapa fokus utama UNICEF adalah kesehatan anak, pendidikan, perlindungan anak, serta gizi dan air bersih.

“Anak-anak di Haiti dikatakan terjebak dalam lingkaran setan, direkrut ke dalam kelompok-kelompok bersenjata. Hal ini memicu keputusasaan mereka, dan jumlahnya terus bertambah”, kata Direktur Eksekutif UNICEF dan Advokat Utama Komite Tetap Antar-Lembaga untuk Haiti, Catherine Russell.

Ia menambahkan, tren ini tidak dapat diterima dan harus dibalikkan dengan memastikan keselamatan dan kesejahteraan anak-anak diprioritaskan oleh semua pihak.

Peningkatan perekrutan anak oleh kelompok bersenjata telah dipicu oleh meningkatnya kekerasan, meluasnya kemiskinan, kurangnya pendidikan, dan hampir runtuhnya infrastruktur penting dan layanan sosial di Haiti.

Anak-anak sering dipaksa bergabung untuk menghidupi keluarga mereka, atau di bawah ancaman terhadap keselamatan mereka. Banyak dari mereka direkrut setelah dipisahkan dari pengasuh mereka, dilucuti dari perlindungan dan pilihan bertahan hidup.

Menurut aturan internasional, khususnya Konvensi Hak Anak PBB, anak adalah setiap manusia berusia di bawah 18 tahun. Kecuali dalam undang-undang suatu negara, ditentukan bahwa kedewasaan dicapai lebih awal.

Sementara itu, anak-anak di luar kendali kelompok bersenjata sering dipandang dengan kecurigaan, dan berisiko dicap sebagai mata-mata atau bahkan dibunuh oleh gerakan main hakim sendiri. Ketika mereka membelot atau menolak untuk bergabung dengan kekerasan, nyawa dan keselamatan mereka langsung terancam.

“Anak-anak di banyak bagian Haiti menjadi sasaran kekejaman, jelas Russell. Ia menambahkan, kekejaman ini meninggalkan mereka dengan bekas luka psikologis dan emosional, ini mungkin menghantui mereka seumur hidup.

Di ibu kota Port-au-Prince, 1,2 juta anak hidup di bawah ancaman kekerasan bersenjata. Diperkirakan 25 persen dari 703.000 pengungsi internal di negara itu – 365.000 anak – saat ini berada di kota itu dan hidup dalam kondisi sangat buruk serta terpapar berbagai ancaman.

Kekerasan seksual dan pemerkosaan telah merajalela di Haiti. Menurut Kantor Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal untuk Anak-anak dan Konflik Bersenjata, jumlah anak-anak terpapar kekerasan seksual meroket sepuluh kali lipat tahun ini saja.

Pada tahun 2024, UNICEF telah menjangkau lebih dari 25.000 orang dengan layanan dan dukungan terkait kekerasan seksual dan berbasis gender, termasuk manajemen kasus multi-sektoral, dukungan psikososial, dan sosialisasi masyarakat.

Menanggapi persoalan ini, UNICEF telah melatih pasukan keamanan dan organisasi masyarakat sipil tentang langkah-langkah perlindungan anak untuk melindungi hak-hak mereka.

UNICEF juga telah menyediakan perawatan sementara bagi anak-anak jika sebelumnya terkait dengan kelompok bersenjata. UNICEF menawarkan dukungan psikososial, makanan, serta layanan pelacakan dan penyatuan kembali keluarga.

UNICEF mendesak semua pihak di Haiti, termasuk pasukan keamanan dan pemerintah mengambil langkah-langkah:

Pertama, memprioritaskan keselamatan dan perlindungan semua anak dan memastikan mereka diperlakukan sebagai anak-anak terlebih dahulu, mengambil setiap tindakan untuk menghindari pembunuhan dan cedera lebih lanjut terhadap anak-anak, termasuk para rekrutan.

Kedua, mendukung pembebasan segera anak-anak dari kelompok bersenjata dan penyerahan segera mereka kepada para pelaku perlindungan anak sipil untuk pemulihan dan reintegrasi mereka.

Ketiga, memastikan hak dan perlindungan semua anak di Haiti menjadi inti dari setiap agenda saat ini dan di masa mendatang. Anak-anak harus dilindungi dari perekrutan, kekerasan seksual, dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya, serta memiliki akses aman ke layanan dasar, termasuk pendidikan, kesehatan, gizi, dan perlindungan anak. (z/UNICEF)