maiwanews – Seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bukukan laba bersih sebesar Rp 45,3 triliun selama semester I-2010, atau meningkat 18,36% semester dari sebelumnya yang hanya Rp 38,32 triliun pada periode yang sama.
Menurut M Said Didu, dari 141 perusahaan milik pemerintah yang ada, PT Pertamina (Persero) masih menjadi penyumbang laba terbesar, disusul dengan PT PLN (Persero) dan PT Telkom Tbk.
BUMN dari sektor perbankan menyumbang laba bersih Rp 10,7 triliun atau naik 36,29% dari sebelumnya sebanyak Rp 7,8 triliun, sektor energi menyumbang laba bersih Rp 19,2 triliun, yang naik 27,37 % dari sebelumnya sebesar Rp 15,1 triliun, dan ektor asuransi menyumbang laba bersih Rp 3,3 triliun, naik 20,44% dari sebelumnya Rp 2,5 triliun.
Namun BUMN ada juga yang justru mengalami penurunan seperti sektor penunjang pertanian yang menyumbang laba bersih Rp 1,3 triliun, atau turun 23% dari perolehan sebanyak Rp 1,8 triliun.
“Penurunan itu disebabkan turunnya keuntungan pupuk, hampir semua BUMN pupuk, karena stok menumpuk dan larangan sehingga eskpor daya serap hanya 70%,” kata Sekretaris Kementerian BUMN, M Said Didu di Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis, 12 Agustus 2010.
BUMN yang juga turun labanya adalah sektor sarana angkutan, seperti Pelni, PPD, dan Damri yang laba bersihnya turun 56% dari sebelumnya Rp 700,8 miliar menjadi Rp 307,9 miliar.
Karena harga dan produksi bagus, terutama komoditi karet. Musim hujan ini membuat sawit bagus dan harga gula juga stabil, maka laba BUMN sektor perkebunan naik 16 kali lipat atau 1600% yakni Rp 397,4 miliar dari sebelumnya rugi sebesar Rp 21 miliar.
Laba BUMN dari sektor konstruksi menyumbang Rp 232,2 miliar atau naik 9,49% dari perolehan sebelumnya sebanyak Rp 213,2 miliar, dari sektor pembiayaan menyumbang Rp 554,4 miliar atau naik 53,3% dari perolehan sebelumnya sebanyak Rp 850,2 miliar.
Dari sektor pertambangan menyumbang laba Rp 2,78 triliun atau naik 49,89% dari laba sebelumnya sebesar Rp 1,85 triliun dan sektor aneka industri ruginya turun 13 % yakni Rp 26,89 miliar dari sebelumnya rugi Rp 74,5 miliar.
BUMN dari sektor kawasan industri perumahan menyumbang laba Rp 42,63 miliar atau turun 9,77% dari sebelumnya Rp 47,25 miliar, sektor industri strategis menyumbang laba Rp 838 miliar atau turun 176% dari Rp 1,09 triliun, dan ektor perhutanan menyumbang laba Rp 238,95 miliar atau turun 43,1% dari sebelumnya Rp 409,95 miliar.
Sektor telekomunikasi menyumbang laba Rp 5,95 triliun atau turun 1,3% dari sebelumnya Rp 6,03 triliun, sektor percetakan dan penerbitan menyumbang laba Rp 21,25 miliar, turun 37,9% dari sebelumnya Rp 24,51 miliar.
Sementara, BUMN dari sektor logistik dan jasa sertifikasi menderita kerugian sebesar Rp 73,8 miliar, turun 47% dari kerugian sebelumnya sebanyak Rp 139,8 miliar.









