Peran Stasiun Riset dan Monitoring Tuna Benoa dalam mendukung Perikanan berkelanjutan

Peran riset dalam penyediaan data dan informasi ilmiah merupakan hal yang sangat penting dalam pembangunan perikanan serta dapat menempatkan posisi tawar yang tinggi dalam forum perikanan regional maupun international, demikian disampaikan oleh Dr. Fadel Muhamad – Menteri Kelautan dan Perikanan, disela sela kunjungan resminya di Stasiun Riset dan Monitoring Tuna, Pusat Riset Perikanan Tangkap – Badan Riset Kelautan dan Perikanan – Benoa, Bali pada tanggal 3 Januari 2010. Dalam kunjungan tersebut hadir pula Prof. Dr. Jane Lubchenco, Under Secretary for Oceans and Atmosphere, Administrator – National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) – USA .

Lebih jauh Dr. Gellwynn Jusuf – Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan menyampaikan secara ringkas tentang sejarah perikanan Tuna dan permasalahannya serta upaya dan peran BRKP dalam mempersiapkan Indonesia menjadi anggota penuh Indian Ocean Tuna Commission (IOTC) dan Commission for Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT) serta selanjutnya untuk dapat diterima di Western and Central Pacific Fisheries Commission (WCPCF).

Indonesia mulai berkiprah dalam perikanan Tuna di Samudra Hindia pada tahun 1973. Sadar akan mulai menipisnya sumberdatya Tuna dunia, beberapa negara pemanfaat bersepakat membentuk Organisasi Perikanan Regional (Regional Fisheries Organization/RFMO) yang secara bersama sama mengatur kelestarian pemanfaatan ikan peruaya jauh.

Untuk dapat menjadi anggota RFMO, Indonesia harus memenuhi ketentuan yang terkandung didalam konvensi RFMO tersebut. Oleh karena itu Departemen Kelautan dan Perikanan telah mempersiapkan diri sejak tahun 2001 dengan melaksanakan beberapa kegiatan untuk memenuhi hal-hal yang berkaitan dengan resolusi RFMO.

Dalam menyikapi hal tersebut Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) melalaui Stasiun Riset dan Monitoring Tuna Benoa dibawah Pusat Riset Perikanan Tangkap dengan menyiapkan enumerator dan observer telah melaksanakan kegiatan yang mencakup: 1) rancangan yang memadai dalam system pengumpulan data, 2) implementasi lapangan yang memadai dalam system pengumpulan data, 3) pengolahan dan analisis yang memadai terhadap data yang dikumpulkan, serta 4) desiminasi hasil yang memadai, rekomendasi serta memperoleh feed back dari para pemangku kepentingan dan pembuat kebijakan.

Dimulai dengan sarana yang sangat minim, pada tahun 2001 BRKP bekerjasama dengan beberapa lembaga international melaksanakan Sampling and Monitoring Tuna di Benoa, Cilacap dan Muara Baru Jakarta.

Capaian hasil setelah kegiatan dilaksanakan (sejak 2002), secara signifikan menunjukan kemajuan dalam ketersediaan data perikanan Tuna di Samudra Hindia. Secara tegap dan pasti Pusat Riset Perikanan Tangkap-BRKP terus berusaha meningkatkan kemampuan dalam hal sampling-monitoring serta riset Tuna di Samudra Hindia dengan cara meningkatkan kemampuan para peneliti serta melengkapi sarana dan prasarana yang tersedia. Kerjasama dengan lembaga regional dan internationsal terus digalang dalam rangka merealisasikan maksud tersebut.

Keberhasilan kegiatan ini diakui oleh lembaga lembaga perikanan regional dan international diantaranya IOTC dan CCSBT, dan ini pula yang merupakan salah satu pertimbangan penting diterimanya Indonesia sebagai anggota penuh IOTC pada tahun 2007 dan CCSBT pada tahun 2008.