
SURABAYA – Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI Gatot Nurmantyo, belum lama ini ((3-4/01/2011) meninjau latihan pemantapan Raider Batalyon Infanteri 500/Raider TA. 2010, yang di pusatkan di Perkebunan Kopi Kandangan Desa Kare, Kecamatan Kare. Kabupaten Madiun.
Latihan tersebut bertujuan untuk menyikapi dinamika lingkungan strategis internasional yang selalu membawa implikasi, baik positif maupun negatif.
Pada sisi lain, secara bersamaan baik langsung mau pun tidak langsung, bisa mempengaruhi perkembangan nasional. Implikasi positifnya dapat membawa manfaat dalam mendukung cita-cita, tujuan nasional dan kepentingan nasional. Sedangkan implikasi negatifnya bisa menyebabkan meningkatnya potensi ancaman bagi kelangsungan hidup negara.
Situasi politik internasional saat ini, menurut Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Gatot Nurmantyo, selain masih diwarnai oleh permasalahan lama yang belum berhasil diatasi, bahkan bertambah kompleks dengan hadirnya serangkaian masalah baru, lingkungan strategis cenderung semakin sulit diperkirakan karena ketidakteraturan dan ketidakstabilannya semakin menjadi corak dominan, ungkapnya.
Dinamika politik dan keamanan internasional semakin intens karena dibawah pengaruh fenomena globalisasi dan berbagai implikasinya, negara-negara di dunia dituntut untuk saling bekerjasama, namun pada sisi lain persaingan antar negara dalam melindungi kepentingan nasional juga semakin meningkat. Interdependensi antarnegara semakin menguat, tetapi pada saat yang bersamaan kesenjangan power ekonomi dan militer semakin melebar karena agenda dan isu internasional masih dominan dipengaruhi oleh agenda dan kebijakan negara-negara maju. Akibatnya negara-negara berkembang yang memiliki sumberdaya terbatas, harus lebih hati-hati mengatasi permasalahan yang dihadapi, lebih aktif memperkuat ketahanan nasional di berbagai bidang, dan lebih baik dalam melakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan dalam melindungi kepentingan-kepentingan nasionalnya, lanjutnya.
Disisi lain, Jenderal bintang dua dari unsur TNI Angkatan Darat ini menilai bahwa negara Indonesia belum terbebas dari aksi-aksi teror yang di lakukan oleh kelompok radikal tertentu dengan berbagai dalih yang mengabaikan prinsip-prinsip hak asasi manusia dan mendahulukan kepentingan perorangan dan golongannya.
Sehingga mantan Gubernur Akademi Militer ini bersikap, bahwasannya tidak ada pilihan lain bagi kita sebagai alat negara di bidang pertahanan untuk selalu mempersiapkan diri guna menghadapi tantangan tugas kedepan yang tidak semakin ringan. Kita harus membina diri dengan kemampuan-kemampuan melalui latihan-latihan seperti halnya Yonif 500/Raider saat ini, tegasnya.
Latihan Pemantapan Raider ini bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan teknis dan taktis satuan Raider dalam menghadapi tugas yang bersifat khusus dan dalam situasi yang khusus pula. Sifat kekhususan dalam latihan inilah yang mutlak harus dikuasai dan dimiliki oleh setiap prajurit Yonif 500/ Raider sebagai satuan pamungkas Kodam V/Brawijaya.
Batalyon Infanteri 500/Raider yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Inf I Nyoman Sukasana, dalam melaksanakan latihan tersebut dimulai tanggal 26 Desember 2010 dan akan berakhir sampai tanggal 11 Januari 2011, dengan melibatkan 886 orang personel TNI AD, yang terdiri dari personel pelaku berjumlah 627 orang dan personel pendukung serta pelatih berjumlah 259 orang.
Sebelum pelaksanaan latihan dimulai, Kasdam V/Brawijaya Brigjen TNI M. Setyo Sularso dengan didampingi para Stafnya, telah meninjau kesiapan pasukan yang akan mengikuti latihan tersebut. (doni sujito)
Pemerintah Pastikan Penyaluran Bantuan Bencana Sumatra Berjalan Cepat
Prabowo & Li Qiang Bahas Penguatan Kemitraan Strategis Indonesia-Tiongkok
Lantamal VI meninjau infrastruktur PT Vale Indonesia Tbk
Putin-Lukashenko Bahas Kerja Sama Strategis dalam Pertemuan di Volgograd
Porsche Lakukan Investasi Strategis untuk Perkuat Masa Depan









