Kesaksian Rima Melati di MK Lemah Tanpa Medical Record

SUTIMAN
SUTIMAN

SURABAYA – Guru Besar Farmakologi Universitas Brawijaya Malang, Prof. dr. Moch. Aris Widodo Ph.D., menilai kesaksian Rima Melati di Mahkamah Konstitusi Rabu lalu, (5/01/2011) memang khas pemahaman seorang awam karena keyakinannya hanya berdasar pada nasihat dokter pribadi.

Penyakit kanker sesungguhnya bukan disebabkan oleh satu faktor. Sulit membuktikan bahwa penyakit kanker yang dideritanya karena asap rokok. Apalagi dia tidak menunjukkan jejak rekam medis yang dapat dipakai sebagai petunjuk bahwa penyakit kankernya karena kebiasaan merokok.

“Dibutuhkan medical record menyeluruh sebelum memastikan bahwa kanker payudara Rima Melati benar-benar karena asap rokok,” kata Aris Widodo.

Di depan Majelis Hakim MK, Rima Melati mengemukakan, “22 tahun yang lalu terkena kanker usus, 8 tahun kemudian terkena kanker payudara, itu terjadi karena saya seorang perokok,” kata Rima Melati yang ditunjuk pemerintah menjadi saksi dalam uji materi UU Kesehatan. Selain Rima Melati, pemerintah juga menunjuk Fuad Baradja yang terkenal dalam sinetron Jin dan Jun.

Ketua MK Mahfud MD mengungkapkan bahwa di Madura itu rokok menjadi tradisi. Mahfud MD yang asli Madura itu menjelaskan anak kecil sering mendapat hadiah berupa rokok.

“Tapi sejak 1990, saya berhenti dan bisa. Sekarang saya merokok hanya dalam mimpi saja,” katanya yang secara khusus ditujukan menjawab pernyataan Fuad Baradja.

Dalam sidang tersebut Fuad mengatakan, terapi buat pecandu rokok sulit berhasil karena begitu kuatnya zat adiktif rokok. Pada kesempatan yang sama, Dr. Mualimin Abdi dari Kementerian Hukum dan HAM juga membenarkan bahwa tidak sulit menghentikan kebiasaan merokok. Menurut Prof. Aris efek merokok sepertinya tidak dapat digeneralisasi karena sifat efeknya yang terkait dengan banyak faktor baik lingkungan, genetic maupun kejiwaan seeorang.

Di kesempatan terpisah, Sutiman, Guru Besar Biomolekuler Universitas Brawijaya menyatakan bahwa rokok kretek berbeda dengan rokok yang diteliti di banyak negara.

Pendapat rokok kretek yang berkembang menjadi stigma sebagai penyebab kanker, sayang sekali tidak didasarkan atas penelitian atau survei dengan sampel populasi perokok kretek yang tidak sedang berobat ke dokter atau rumah sakit.

Sebuah survei skala nasional dengan sebaran yang mencakup sebagian besar etnik di Indonesia harus dilakukan untuk menakar dampak rokok di Indonesia.

Survei skala nasional tersebut harus dilakukan mengingat dampak dari setiap aturan pemerintah perlu diukur dan dihitung secara seksama.

Sutiman menyatakan, jangan sampai kita membuat keputusan salah karena hakekatnya mengingkari kenyataan bahwa merokok dan bercocok tanam tembakau merupakan budaya bangsa yang jauh lebih dulu eksis ratusan tahun lalu ketimbang isu sebagai pencetus kanker yang mulai diributkan Rima Melati dalam beberapa tahun terakhir.

Sutiman juga mengatakan kemungkinan membuat rokok menjadi lebih sehat sesungguhnya terbuka seiiring perkembangan Nano Science. Melalui pendekatan Fisika Kuantum, akan nada alternatif berfikir untuk membuka peluang memodifikasi asap kretek menjadi menyehatkan. Beberapa prototip rekayasa untuk menjinakkan asap kretek telah dilakukan dan hasilnya cukup optimis untuk dikembangkan.

“Di Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas yang kami kelola membuktikan, tak sedikit penderita kanker payudara stadium akhir dapat dibantu penyembuhannya dengan memanfaatkan asap divine cigarette yang dasar berfikirnya menggunakan pendekatan Fisika Modern,” kata Sutiman. (doni sujito)