TUBAN – Aktifitas penambangan pasir ilegal yang terus marak belakangan ini dan diduga sebagai biang perusakan tanggul-tanggul di sepanjang area daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo, petugas gabungan Satuan Ketertiban dan Keamanan Masyarakat (Satibtranmas) Pemkab Tuban dibantu aparat TNI dan Polri menyita satu truk alat tambang ilegal dalam razia tambang pasir ilegal di Desa Banjararum, Kecamatan Rengel, Tuban, kemarin siang.
Operasi berlangsung di dua titik lokasi tambang pasir mekanik yang diduga illegal. Kedatangan petugas secara mendadak ini tak pelak membuat para pekerja dan pemilik tambang panik/ Mereka langsung kabur dengan menggunakan rakit.
Para petugas tak kalah gesitnya. Dari lokasi area tambang langsung mengamankan seluruh peralatan tambang. Puluhan peralatan seperti mesin penyedot pasir, drum dan pipa langsung dipotong untuk sita. Sementara peralatan lainnya langsung dihanyutkan ke sungai.
Mendapati para petugas yang langsung melakukan penyitaan, sejumlah dan menyaksikanya dari kejauhan. Seluruh peralatan yang berhasil disita petugas tersebut langsung diangkut menggunakan truk untuk diamankan di Kantor Satibtranmas Tuban.
Kabag Operasional Satibtrnmas Pemkab Tuban, Irianto, menyatakan razia digelar berdasarkan Perda Provinsi Jawa Timur Nomor I Tahun 2005 tentang pengendalian usaha penambangan pasir bermesin mekanik di kawasan sungai.
Dikatakan Irianto, dengan adanya razia ini diharapkan kawasan sungai, terutama DAS Bengawan Solo, terbebas dari aktifitas tambang pasir mekanik yang dinilai merusak lingkungan di kawasan sungai
Sementara itu, di satu sisi penambang pasir tradisional di sepanjang DAS Bengawan Solo terancam kehilangan mata pencaharian menyusul terus ditertibkannyausaha yang telah dilakukan secara turun temurun ini.
Tengoklah ketika matahari pagi di Dusun Tapang, Desa Campurejo, Kecamatan Rengel, belum setinggi galah. Tapi, Suradi, 47, seorang penambang pasir tradisional di sepanjang DAS Bengawan Solo dengan tertatih-tatih menaiki tebing sungai yang airnya mengalir sampai jauh ini.
Otot-ototnya tampak menonjol seolah hendak keluar dari kulitnya yang hitam legam, menahan beratnya pasir yang dipikulnya. Sejenak mata lelaki itu tertegun di antara tempat timbunan pasirnya. Namun ia hanya terpaku sembari terus menatap curiga.
Penambangan pasir di DAS Bnegawan Solo memang sudah sejak lama dilarang. Namun bagi Suradi dan umumnya penambang pasir di tempat itu, seberapa pun kerasnya larangan mengambil pasir Bengawan Solo yang diberlakukan, tidak akan pernah menyurutkan nyalinya.
Bagi para penambang seperti Suradi itu, rasa lapar lebih menakutkan ketimbang ancaman aparat. Bahkan, pusaran air di Bengawan Solo yang sewaktu-waktu bisa mengancam nyawanya, tak pula dihiraukan. ”Sekarang semuanya serba sulit. Hanya ini satu-satunya jalan hidup saya,” kata Suradi.
Walau pun dalam sehari belum tentu mereka berhasil mengantongi uang Rp 25 ribu, menurut mereka itu lebih baik daripada membiarkan dapur keluarganya tak mengepul.Pasir yang diangkut sedikit demi sedikit dari dasar bengawan Solo itu, tidak bisa langsung ditukarkan uang.
Suradi perlu waktu sepuluh hari untuk bisa merasakan hasil kerja keras beresiko tinggi itu. Malah sering pula sebulan belum juga ada truk yang datang mengangkutnya.Pasir hitam di tempat itu, konon, mutunya tidak terlalu bagus, sehingga sangat jarang diminati pembeli, walau harganya jauh lebih murah dari pasir dari Jombang atau Bojonegoro. Untuk tiap rit atau satu truk ban dobel, kata Suradi, dijual Rp 150 ribu
.
Kawan-kawan Suradi berjmlah sekitar 25 orang, hari itu juga tidak tampak. Hanya Suradi dan empat orang penambang pasir yang tampaknya tak peduli larangan petugas. Tetapi, kata Suradi, rekan-rekan lainnya tidak menambang karena air bengawan mulai naik, bukan lantaran takut pada larangan pemerintah.
Jika air sudah mulai naik, ungkap Suradi, pasir yang didapat tidak seberapa bagus dan sedikit sekali. Suradi sendiri mengaku baru berhasil mengangkut tujuh pikul hari itu. Jika air bengawan Solo surut, sehari bisa lebih dari 30 pikul, sejak jam 5 pagi hingga jam 3 sore.
Suradi bukannya tak tahu jika pekerjaannya itu mengakibatkan kerusakan lingkungan di DAS Bengawan Solo. Tetapi bapat tiga anak itu tidak mau jika profesinya tersebut dituding menjadi satu-satunya sebab rusaknya tanggul Bengawan Solo.
“ Masa hanya dengan cekrak (alat angkut pasir dari anyaman bambu, Red) dan ember saya bisa menjebolkan tanggul,” kilah Suradi tak bermaksud membela diri. (gregory)
Menlu Rusia Sebut Warga Sipil Jadi Korban Serangan Ukraina
Prabowo dan Airlangga Bahas Perkembangan Ekonomi Nasional
Donald Trump Umumkan Pengangkatan Pejabat Gedung Putih
Jubir Kemenlu Rusia Tanggapi Serangan Pesawat Nirawak Ukraina
Prabowo Tegaskan Peran Penting APEC pada Sesi Dialog di Peru









