Laparoskopi, Teropong Organ Tanpa Penyayatan Lebar

TangerangTeknik pembedahan konvensional sepertinya secara perlahan-lahan mulai ditinggalkan. Kehadiran alat Laparoskopi menjadi pilihan baru dan diprediksi menjadi tren bedah masa depan.

Hal ini diperkuat dengan semakin banyaknya teknik laparoskopi yang digunakan oleh para dokter bedah digestif di rumah sakit. Seperti halnya Rumah Sakit Sari Asih Serang, teknik laparoskopi menjadi tren bedah baru yang  banyak diminati di Rumah Sakit Sari Asih Grup ini.

Menurut Dokter Hamid Audah, SpBD, dokter bedah digestif tetap RS Sari Asih Serang, laparoskopi adalah tindakan pembedahan perut dengan menggunakan teleskop atau teropong tanpa perlu melakukan penyayatan lebar pada dinding perut, hanya cukup 0,5 sampai 1 cm saja. Tindakan ini dilakukan oleh dokter ahli bedah saluran cerna (digestif) untuk pengambilan usus buntu  membebaskan perlengketan-perlengketan akibat operasi sebelumnya atau pengambilan batu kandung empedu dan untuk tindakan diagnostik lainnya.

”Cukup dengan menggunakan teropong (alat laparoskopi) kita bisa tahu letak organ perut yang akan dioperasi melalui monitor TV. Kemudian dengan proses penjepitan, pengikatan dan pemotongan serta pengambilan organ melalui satu lubang, operasi sudah bisa dilakukan,”ujar dr. Hamid Audah, SpBD di sela-sela kesibukannya melayani pasien di Polilklinik.

Dr. Hamid, menerangkan bahwa teknik laparoskopi kini banyak diminati karena banyak keuntungan yang bisa diperoleh pasien. Selain luka minimal, waktu operasinya singkat dan masa penyembuhan pun menjadi lebih cepat.

”Dalam waktu lebih cepat (sekitar 6-10 jam) si pasien bisa segera berjalan atau beraktifitas kembali,” terang pria berpenampilan rapih ini.

Selain di bidang bedah digestif, laparoskopi juga digunakan oleh dokter ahli kebidanan dan kandungan untuk memeriksa pasien yang mengalami invertil atau ketidaksuburan dan belum memililki keturunan untuk melihat keadaan saluran telur atau saluran tuba.

Di Indonesia sendiri, teknik bedah laparoskopi mulai dikenal pada awal tahun 1990-an. Sejak 1997 laparoskopi telah menjadi pilihan utama untuk menangani penyakit-penyakit kandung empedu dibeberapa rumah sakit besar di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia.

Teknik laparoskopi atau pembedahan minimal invasiv diperkirakan menjadi tren bedah masa depan. Bahkan pada tahun 2010 ini, sejumlah dokter memprediksikan sekitar 70 – 80 % tindakan operasi di negara-negara maju akan menggunakan teknik ini.