Dahlan Iskan dan Andi Taufan Tiro Beda Nasib

maiwanews – Peristiwa boleh sama namun hasil seringkali justru sangat berbeda, bahkan bertolak belakang. Hal itu juga terjadi dengan dua peristiwa yakni aksi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan di tol Senayan dan peristiwa lain di terminal kedatangan Bandara Soekarno Hatta (Soetta) yang melibatkan anggota Komisi V DPR, Andi taufan Tiro.

Kalau aksi Dahlan yang menggratiskan puluhan pengguna tol bahkan sempat melempar kursi di jalan justru membuat mantan Dirut PLN itu kebanjiran pujian, namun hal sebaliknya dituai oleh Andi Taufan. Politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) itu dicaci publik karena dituding telah bertindak arogan terhadap petugas Bea cukai Bandara.

Padahal kedua peristiwa memiliki cerita dan latar belakang yang hampir persis sama. Kedua peristiwa itu didahului oleh kekecewaan warga dan yang bersangkutan atas kualitas pelayanan pada sarana publik yang juga kebetulan sama-sama merupakan sarana publik di sektor transportasi.

Kekecewaan Dahlan pada Selasa (20/3) bermula ketika antrian di loket tol memanjang, padahal masih ada loket yang tidak dibuka. Begitupun dengan kekecewaan Andi Taufan pada Selasa (21/2) di terminal kedatangan luar negeri Bandara Soetta yang juga diawali dengan mengularnya antrian sementara beberapa loket yang tersedia terlihat tidak difungsikan alias kosong.

Persamaan lain adalah, baik Dahlan maupun Andi Taufan, keduanya memiliki kewenangan pegawasan terhadap dua lembaga pengelola sarana publik itu. Dahlan berwenang karena ia adalah Menteri BUMN yang memang membawahi PT jasa Marga sebagai pengelola jalan tol, sementara Andi Taufan juga melekat fungsi pengawasan sebagai anggota Komisi V DPR yang membidangi perhubungan.

Namun beruntung bagi Dahlan, meski judul aksinya “mengamuk”, mantan CEO Jawapos grup itu bukan hanya dipuji publik tapi hasi tegurannya berbuah hasil positif. Meski di bursa efek sahamnya stag karena peristiwa itu, namun Pihak Jasa Marga menanggapinya dengan sikap manis, terlihat patuh, mengaku bersalah dan dan menyatakan siap memperbaiki kualitas pelayanan.

Nasib berbeda dialami Andi Taufan. Mungkin saja saat menumpahkan kekecewaannya pada petugas Bea Cukai, ia berharap “tegurannya” bisa memperbaiki kualitas pelayanan di bandara, namun sial, ia malah dituding publik telah berbuat arogan terhadap pegawai Bea Cukai. Bahkan kasusnya berlanjut dan Andi Taufan terancam terkena sanksi BK DPR.

Lalu kenapa dua peristiwa yang nyaris sama bisa menghasilkan hasil yang berbeda sama sekali? Kenyataannya, Dahlan memang memiliki karakter kepemimpinan yang umum disukai publik. Sebaliknya, Andi Taufan sedang berada di lembaga bernama DPR yang kebetulan sedang banyak dikritik.

Namun terlepas dari itu, bisa jadi hal itu terjadi karena pemanfaatan psikologi publik dan politik media yang berbeda. Maklum, Dahlan selama puluhan tahun bergelut di dunia pers yang tahu betul bagaimana cara  memperlakukan media untuk bisa mendapatkan simpati publik, sementara Andi Taufan tidak. Itu saja. (Yulham)