Tuban – Meski telah mangkat, kharisma Sunan Bonang masih terasa hingga sekarang. Makamnya di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Kota, Tuban, berada di belakang masjid Jami’ sisi barat alun-alun kota.
Makam ini, telah dicagarkan pemerintah sehingga patut dijaga kelestariannya. Di beberapa sudut dinding kompleks makam wali bernama asli Makdum Ibrahim itu, terdapat beberapa ornamen kuno. Tampak jelas di sisi kiri dan kanan gapura masuk kompleks makam di ujur timur Kutorejo Gang 4 Tuban itu.
Di sepanjang jalan setapak masuk gang berderet di kanan kiri para penjaja souvenir. Semuanya didominasi perangkat ibadah. Mulai kitab, tasbih, sajadah, mukena dan sarung dan kopiah. Barang-barang ini berjejer dan bahkan ada yang tertindih kaus dan baju bercorak batik Gedhok. Batik warisan leluhur orang Tuban yang dulu diagem para petinggi kadipaten yang semasa kerajaan Majapahit dipimpin Adipati Ronggolawe.
Ada dua gapura masuk kompleks makam. Lepas dari gapura pertama, masuk pelataran luar makam. Di sisi kiri ada masjid Astana, bagian kanan jalan ada tempat peristirahatan khusus untuk peziarah. Menurut, Fahrur Rozi, salah seorang pegiat wirid di makam Sunan Bonang, Masjid Astana merupakan tinggalan dari makdum Ibrahim. Masjid kecil itu sudah dipugar di sana-sini, namun masih saja mengirimkan aura magis.
”Oleh karena itu, kurang afdol jika berziarah tidak menikmati kontemplasi di masjid Astana,” kata Fahrur Rozi, Jumat 26 Maret 2010.
Semasa mendiang hidup, Sunan Bonang merupakan tokoh yang suka pluralitas. Sama dengan syiar yang sering dia lakukan. Dan itu terbukti dengan tempelan piring dan lepek berornamen negeri China, tertancap di sisi
kanan dan kiri gapura kedua. Piranti tersebut, ungkap M Lutfi, warga sekitar, makam merupakan buah tangan dari sahabat-sahabat Bonang dari negeri China. Kemudian disusun rapi di gapura, sebagai simbul penerimaan faham dan keyakinan lain dari pribadi bijak Sunan Bonang.
Ada ribuan misteri di area kompleks makam Sunan Bonang. Termasuk sejumlah kayu dan benda-benda purbakala lain dari kompleks makam yang kini tersimpan rapi di Museum Kambang Putih, sekitar 30 meter ke timur laut dari sentra makam.
Setelah dari makam Sunan Bonang, disarankan ziarah juga ke makam Sunan Bejagung, yang berada 4 Km arah selatan dari makam Sunan
Bonang. Pusara tokoh yang lahir dengan nama Muhdin Asyari ini, begitu
damai di kelilingi pohon asem, jati dan pohon panggang. Rindang
pepohonan menjadikan makam wali ini demikian menentramkan.
Di pintu masuk kompleks makam Sunan Bejagung, singgah sejenak di
pendapa makam. Pendapa bertoang jati ini beratap welit. Anyaman daun
siwalan yang ditata sedemikian rupa ini menaungi pendapa. Ada dua
pendapa mengapit jalan masuk menuju gapura pintu masuk yang menghadap
ke timur.
”Sesuai pesan Mbah Sunan Bejagung, dua pendapa ini tidak boleh
diplester atau dikeramik,” kata Mbah Rawan (67), salah satu penjaga
makam yang aku temui di pendapa beralas tanah itu.
Pendapanya khas, genteng welitnya menjuntai hingga setinggi 1,5 meter
dari permukaan tanah. Sehingga orang dewasa yang akan singgah musti
merunduk. Sangat harmoni dengan alam, pendapa tak berdinding sehingga
angin utara sejuk difilter dedaunan masuk ke ruang pendapa. Pendapa
sisi utara adalah tempat istirahat dan peremuan peziarah perempuan.
Sementara yang bagian selatan untuk peziarah pria.
Konon pendapa tersbeut sebagai tempat Mbah Muhdin Asyari melakukan
halaqoh dengan warga. Di situ pula sang sunan menempa para santri dan
cantrik berbagai ilmu agama dan kanuragan.
”Paling ramai dikunjungi peziarah ketika hari Jumat Wage,” kata Mbah
Rawan. Biasanya, mulai hari Kamis ribuan peziarah hadir, karena malam
harinya (malam Jumat Wage), ada selamatan dan pengajian.
Perundingan Dagang, Indonesia Tawarkan Solusi Saling Menguntungkan ke Amerika Serikat
Pihak Berwenang Identifikasi 3 Jenazah Korban KKB di Papua Pegunungan
Ukraina Tuding Tentara Rusia Luncurkan Rudal Balistik Setiap Hari
Tulungagung Dominasi Perolehan Medali di Inorga PERBAFI
Danny Pomanto, Dua Pekan Borong Tiga Penghargaan Media Nasional Sekaligus









