300 Panda Masih Hidup di Penangkaran di Tiongkok

maiwanews – Tiongkok berhasil membiakkan salah satu binatang langka, panda. Namun ratusan ekor hewan terancam punah tersebut hidup di penangkaran. Saat ini pihak berwenang sedang berupaya mengembalikan panda-panda itu ke habitat aslinya.

Pada dekade 1980-an telah dilakukan upaya penyelamatan panda dari ancaman kepunahan dengan didirikannya tempat penelitian bagi pembiakkan panda di Chengdu, Provinsi Sichuan. Program itu dimulai dengan enam panda tahun 1987. Namun, setelah program pembiakan berhasil, populasi panda sebanyak 300 ekor hidup di penangkaran, sementara 1.600 sampai 2.000 lainnya hidup di hutan belantara.

Panda-panda itu, dulunya pemakan daging, sangat tergantung pada bambu dan merupakan satwa asli dari Provinsi Sichuan, Shaanxi, dan Gansu di Tiongkok.

Dr. Hou Rong, peneliti utama pada Yayasan Penelitian Chengdu, mengatakan, program itu berhasil melampaui sasaran awal untuk membiakkan 300 panda di penangkaran. Ia memaparkan, ”Kami berhasil mengembangkan jumlah berkesinambungan di penangkaran. Awalnya sangat sulit. Sekarang, kami telah mengatasi banyak masalah dalam program pembiakkan, jadi sangat mendukung pertumbuhan populasi panda di penangkaran”.

Dr. Hou mengatakan, langkah berikutnya adalah mengenalkan lagi panda-panda ini kepada habitat aslinya. Tetapi, ia mengakui, rencana itu menghadapi banyak kesulitan. ”Panda-panda itu sudah hidup di penangkaran selama lima generasi. Jadi, induk panda tidak tahu bagaimana hidup di habitat aslinya. Ini kesulitannya,” ujarnya.

Program untuk mengenalkan lagi panda di penangkaran ke habitat aslinya sempat terhenti setelah matinya panda jantan, Xiang Xiang atau Lucky. Ia dibebaskan ke hutan belantara tahun 2008, namun Xiang Xiang mati setelah diserang panda-panda liar.

Dr. George Schaller, pakar ekologi kenamaan dan anggota Masyarakat Perlindungan Satwa Liar berkantor pusat di New York, berkunjung ke kawasan Chang Tang tahun 1988 untuk meneliti panda. Ia juga menerbitkan hasil penelitian mengenai panda dan berperan penting dalam mendorong Tiongkok mengembangkan program perlindungan panda.

Dr. Schaller mengatakan program rehabilitasi panda itu perlu diteruskan setelah terhenti dengan kematian Xiang Xiang. Tidak ada alasan, ujarnya, untuk terus menempatkan sebanyak mungkin panda di penngkaran. ”Secara umum Tiongkok telah berupaya keras. Sekitar 350 panda hidup di penangkaran, tidak ada alasan untuk menempatkan panda sebanyak itu di sana. Tiongkok harus berusaha keras untuk mengembalikan mereka ke wilayah-wilayah di mana ada hutan, daerah-daerah suaka dan di mana panda sudah punah atau hampir punah, dan itu bukan masalah besar. Hanya membutuhkan itikad kuat, waktu, dan usaha,” paparnya.

Menurut Scaheller, ada banyak bantuan internasional bagi Tiongkok untuk membantu mengembalikan panda ke habitat aslinya. ”Panda jelas binatang langka, hanya tinggal 2.000 ekor. Di sisi lain, spesies panda membutuhkan banyak perhatian dan dana daripada satwa langka lain di dunia . Jadi, hutan harus dilindungi dan perburuan liar panda harus dipantau, ada banyak dana untuk ini semua”, tegasnya.

Program perlindungan panda untuk memulihkan populasinya berhasil dilakukan dengan campur tangan manusia dan ilmu pengetahuan. Tetapi, menurut Dr. George Schaller , sudah saatnya mengembangkan populasi panda di hutan rimba dan jangan terus membuat mereka hidup di penangkaran. (aso/VoA | Foto: Panda raksasa oleh Ucumari)