maiwanews – Di tengah ketegangan yang menyelimuti Semenanjung Korea, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengirim utusan khusus ke China. Â Choe Ryong Hae, pejabat tinggi partai komunis Korea Utara dan wakil marshal yang bertanggung jawab terhadap supervisi militer Korea Utara, berada di Beijing sejak Rabu (22/05) dan mengawali lawatan dengan pembicaraan bersama pejabat tinggi Partai Komunis China (PKC) Wang Jiarui.
Kunjungan ini, nampaknya, merupakan upaya diplomasi Korea Utara untuk memastikan dukungan China yang akhir-akhir ini agak mengendur, seiring sikap “keras kepala” Pyongyang dalam isu senjata nuklir. Â Sebagaimana diketahui, pada tanggal 7-8 Juni mendatang, Presiden AS Barrack Obama direncanakan mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan pemimpin China, Xi Jinping.
Pertemuan tingkat tinggi AS-China merupakan sinyal jelas yang dikirimkan oleh Beijing mengenai masa depan dukungannya terhadap agresifitas Korea Utara di kawasan. Â Pyongyang nampaknya mulai merasa khawatir kehilangan dukungan Beijing, mitra tradisionalnya selama ini.
Sebagaimana dilaporkan oleh Japan Times, kunjungann Choe merupakan upaya Pyongyang untuk melindungi dukungan jangka panjang Beijing terhadap negara komunis itu. Â China adalah urat nadi kehidupan ekonomi dan politik Korea Utara. Sementara bagi China, Pyongyang adalah mitra strategis yang berperan penting dalam memastikan masa depan hegemoni China di Asia Timur yang terus-menerus berada dalam ketidakpastian hubungan dengan Jepang.
Menyusul serangkaian uji coba nuklir yang dilakukan Korea Utara, hubungannya dengan China mengalami gangguan. Â Nampaknya, sikap Beijing yang menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Barrack Obama (dan juga direncanakan dengan Presiden Korea Selatan yang baru, Park Geun Hye, pada akhir bulan Juni) adalah sinyal yang kuat agar Korea Utara sedikit mengerem agresifitas militernya.
Para pengamat meyakini, kunjungan Choe adalah langkah awal untuk menjajaki pertemuan antara Pemimpin Korea Utara  dan China.  Pertemuan tingkat tinggi itu sangat penting untuk memastikan dukungan ekonomi dan politik China, ditengah godaan Washington dan Seoul yang semakin khawatir terhadap dinamika kawasan. (BIQ)









