maiwanews – Massa pendukung dan penentang Presiden Mohamed Morsi yang baru saja dikudeta militer terlibat bentrok. Pejabat Kementerian Kesehatan Mesir mengatakan, 30 orang tewas dan 300 lainnya luka.
Mengutip kantor berita resmi MENA, PressTV melaporkan, di kota Mediterania Alexandria, bentrokan sengit antara pendukung Morsi dan massa tandingan, pecah setelah shalat Jumat (6/7/2013).
Ikhwanul Muslimin memprakarsai demonstrasi yang berakhir bentrok. Demonstrasi dilakukan untuk memprotes pemecatan Morsi dari kursi kepresidenan melaui kudeta militer.
Sedikitnya dua belas orang dilaporkan tewas dan tercatat 200 orang terluka dalam kekerasan di Alexandria.
Sementara di ibukota Kairo, pasukan keamanan menembak mati tiga demonstran pro-Morsi di luar markas Garda Republik pada hari Jumat. Penembakan tersebut menyulut bentrokan parah antara demonstran dan pasukan kemanan.
Bentrokan antara demonstran pro-dan anti-Morsi juga terjadi jalanan di ibukota. Dalam bentrokan di tempat ini, beberapa lagi orang tewas dan puluhan lainnya terluka.
Para demonstran melemparkan kembang api dan batu satu sama lain melintasi sebuah jembatan di dekat Kairo Tahrir Square.
Dalam sebuah insiden terpisah di kota Sinai Utara El Arish, lima polisi ditembak mati oleh orang bersenjata tak dikenal.
Di kota selatan Assiut, setidaknya satu orang lagi meninggal akibat luka tembak.
Menurut beberapa pejabat keamanan, tentara Mesir telah melakukan langkah pulihan ketertiban di Kairo dan di beberapa kota lain, namun kekerasan dalam skala nasional menyebabkan sedikitnya 30 orang tewas dan 318 luka-luka.
Sebelumnya, pemimpin tertinggi Ikhwanul Muslimin, Mohammed Badie mengatakan, kudeta militer terhadap presiden pertama Mesir yang terpilih secara demokratis adalah ilegal dan jutaan akan tetap di jalan sampai Morsi adalah kembali sebagai presiden.
Badie membuat pernyataan tersebut dalam pidatonya di hadapan puluhan ribu pendukung Ikhwanul Muslimin yang berkumpul di Masjid al-Adawiya Rabia, Kairo.
Dia bersumpah untuk apa melanjutkan yang disebutnya “menyelesaikan revolusi” yang menggulingkan rezim yang didukung Barat, mantan diktator Mesir Hosni Mubarak pada tahun 2011.
Badie berulang kali menyebut Morsi sebagai presiden. “Morsi adalah presiden saya dan presiden dan presiden semua orang Mesir,” kata Badie.
Dia bersumpah, Morsi akan kembali ke kantor (presiden Mesir) segera. “Allah membuat Morsi menang dan membawanya kembali ke istana,” kata Badie. “Kami adalah tentara-Nya kita membela dia dengan hidup kita.”









