maiwanews – Inkonsistensi presiden terpilih Joko Widodo atau Jokowi atas janji-janjinya yang akan membentuk kabinet ramping, profesional dan tanpa syarat saat kampanye, dikritik sejumlah pihak.
Kritik itu bermunculan pasca pengumuman postur kabinet oleh Jokowi sendiri. Jokowi menjelaskan, kabinet mendatang tetap berjumlah 34 kementerian yang terdiri dari 18 kementerian diisi oleh profesional dan 16 lainnya oleh profesional partai.
Namun Mahfud MD berpendapat lain. Mantan ketua tim pemenangan capres dan cawapres Prabowo-Hatta itu menilai, sikap inkonsistensi atau tidak tegas Jokowi dalam merancang kabinetnya, sebagai suatu hal yang wajar.
Alasannya kata Mahfud, sejak awal dirinya tidak percaya dengan beberapa janji Jokowi termasuk janji akan memilih kabinet ramping. Menurutnya, kabinet ramping tidak mungkin dilakukan termasuk tidak mungkin orang parpol tidak masuk kabiet.
Karenanya jelas Mahfud, jika kini akhirnya terbukti kabinet tidak ramping, besar unsur parpolnya, dan ternyata koalisinya bersyarat, dirinya tidak menyalahkan Jokowi. Yang salah kata dia, orang yang berharap terhadap janji-janji Jokowi itu.
“Yang salah adalah orang yang berharap pada Jokowi,” kata Mahfud MD usai diskusi Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Jakarta, Rabu 17 September 2014.
Karenanya Mahfud berpendapat, akan masih banyak inkonsistensi yang akan dilakukan Jokowi ke depan. Namun inkonsistensi itu jelas Mahfud, bukan berarti Jokowi tidak komitmen. Karena diakui Mahfud, di dunia politik sangat sulit mewujudkan sebuah komitmen.









