maiwanews – Kehebohan beritan tentang maraknya prostitusi artis akhir-akhir ini hanyalah bagian dari “agenda setting” guna mengalihkan isu utama yang lebih substansial yang sedang dihadapi bangsa ini.
Pernyataan tersebut diungkapkan Budayawan Romo Benny Susetyo dalam sebuah acara diskusi berjudul “Presiden Diabaikan: Saatnya Reformasi Total Kepolisian Untuk Selamatkan Demokrasi”.
“(berita) Prostitusi itu masuk dalam ‘agenda setting’ sehingga orang-orang tidak melihat isu utama yang lebih substansial,” kata Romo Benny di Jakarta, Rabu (13/5/2015).
Isu utama yang lebih substansial yang seharusnya menjadi perhatian ersama saat ini kata Romo Benny adalah tentang bagaimana mewujudkan sebuah penegakan hukum yang bersih termasuk soal reformasi kepolisian.
Dengan adanya isu tentang prostitusi yang dianggap masyarakat sebagai isu “seksi” kata Romo, karena berkaitan dengan moralitas sehingga masyarakat menutup mata terhadap masalah lebih besar yang dihadapi bangsa ini yaitu tentang reformasi kepolisian dan penegakan hukum yang makin melemah.
Romo menjelaskan, sebagai bangsa, kit tidak punya fokus sampai tidak menyadari adanya pengalihan isu dari polemik antara Presiden dengan Wakil Presiden (terkait) pengangkatan Budi Gunawan (menjadi Wakapolri tanpa sepengetahuan Presiden) ke isu-isu remeh seperti prostitusi artis.
Menurut Romo Benny, pengalihan isu ini juga dipelopori oleh media yang tidak cerdas dalam memilih isu. Sehingga kata Romo, publik digiring pada isu yang sifatnya tidak terlalu penting atau substansial.
Romo Benny melanjutkan, yang paling penting sekarang itu adalah bagaimana menata reformasi kepolisian ke depan. Reformasi itu sambung Romo, akan menjadi kekuatan masyarakat sipil yang diwujudkan dengan masyarakat yang demokratis dan polisi yang profesional.
Sementara pendeta Gomar Gultom mengatakan, isu prostitusi dikhawatirkan tidak hanya menjadi pengalih perhatian tapi bisa juga menjadi bahan untuk mengkriminalisasikan seseorang dengan mengaitkannya pada hal-hal berbau pelanggaran moral atau wanita seperti yang menimpa mantan Ketua KPK Antasari Azhar.
“Saya khawatir ada maksud terselubung atau mungkin ada yang mau dikriminalisasi dengan mengaitkannya pada PSK,” kata pendeta Gomar.
Dalam diskusi ini, peserta diskusi sepakat untuk menyuarakan pentingnya reformasi dalam institusi Polri sehingga Polri bisa tumbuh menjadi institusi penegak hukum yang bersih, kompeten, dan kuat.
Diskusi ini dihadiri beberapa tokoh agama dan aktivis antikorupsi seperti Romo Frans Magnis Suseno, Pendeta Gomar Gultom, KH Solahuddin Wahid, Candra Motik, Ray Rangkuti, dan Saor Siagian.
Operasi SAR Sisir Daratan dalam Pencarian Iptu Tomi Samuel Marbun
Pihak Berwenang Identifikasi 3 Jenazah Korban KKB di Papua Pegunungan
Presiden Prabowo Terima Menlu Prancis, Tekankan Penguatan Kemitraan
AS Sanksi Pemberi Dukungan Finansial, Militer, dan Pengadaan ke Korut
Mahkamah Konstitusi Korea Selatan Mulai Persidangan Pemakzulan Yoon Suk Yeol









