
maiwanews – Abdullah (Dewan Tinggi Rekonsiliasi Nasional Afganistan) Sabtu 14 Agustus di Kabul menyampaikan usul terkait kesepakatan politik antara Presiden Afganistan Ashraf Ghani dengan kelompok Taliban.
Sementara Pemerintah Indonesia menyerukan agar pihak-pihak bertikai di Afganistan untuk kembali melakukan dialog. Pejabat Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia Abdul Kadir Jaelani Jumat 13 Agustus mengatakan pemerintah Indonesia percaya masih dapat dicapai solusi politik.
Direktu Jenderal Asia Pasifik dan Afrika di Kemlu itu menyatakan Indonesia siap menjadi fasilitator dan membangun komunikasi dengan kedua belah pihak.
Sabtu 12 September perwakilan kedua belah pihak berkumpul di Doha Qatar untuk pembicaraan damai ditengahi AS. Perundingan tidak membawa kesepakatan damai bagi keduanya.
Ketegangan meningkat di negara itu menyusul penarikan pasukan Amerika Serikat (AS). Selasa 10 Agustus lalu Central Command (Centcom) menyatakan hingga Senin 9 Agustus proses penarikan pasukan AS di Afganistan telah mencapai 95 persen.
AS beberapa waktu lalu mengirimkan 3.500 hingga 4.000 tentara ke pangkalan militer di Kuwait. Pasukan ini disiagakan untuk mendukung proses evakuasi warga AS di Afghanistan. Kebijakan ini juga dilakukan oleh pemerintah Inggris dengan mengirimkan 600 tentara pada Kamis 12 Agustus.

Sejak penarikan militer AS, kondisi keamanan memburuk, Tentara Taliban dan pemerintah saling berebut wilayah. Dalam 8 hari Taliban berhasil merebut 17 dari 34 ibu kota provinsi. Berdasarkan pengakuan beberapa pejabat di Afganistan pada Rabu 11 Agustus, Taliban merebut 3 ibu kota provinsi yaitu Fayzabad, Pol-e Khomri, dan Farah. (z/VOA/Centcom/maiwanews)
Sanksi AS Menarget Perdagangan Minyak Iran-Tiongkok
Pemkot Makassar Siap Kolaborasi Atasi Masalah Sampah di TPA Antang
Indonesia-Australia Komitmen Wujudkan Perdamaian dan Kemakmuran Regional
Prabowo dan Hun Sen Bahas Perdamaian Kawasan di Istana Merdeka
AS-Rusia Bahas Upaya Perdamaian di Ukraina









