Diplomat Rusia Sebut AS-Iran Perlu Patuhi Ketentuan Kesepakatan Nuklir

20200928-mikhail-ulyanov
Mikhail Ulyanov, Perwakilan Tetap Federasi Rusia untuk IAEA, pada pertemuan Dewan Gubernur ke-1562. IAEA, di Wina, Austria pada Senin 28 September 2020.

maiwanews – Diplomat Rusia Mikhail Ulyanov menyebuta ada peluang untuk menyelesaikan semua masalah dalam pembicaraan terkait upaya menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015. Negosiasi terkait hal itu dikatakan bisa berjalan baik melalui diplomasi.

Amerika Serikat (AS) dan Iran perlu untuk kembali mematuhi ketentuan ksepakatan nuklir. Demikian disampaikan Duta Besar Rusia untuk organisasi internasional itu dalam putaran pembicaraan di Wina Rabu 1 Desember.

Kepada wartawan ia mengatakan, pemerintahan Presiden Biden pertama-tama harus mencabut sanksi, sementara Iran harus membawa program nuklirnya sejalandengan parameter sebagaimana ditetapkan dalam JCPOA.

JCPOA adalah singkatan dari Joint Comprehensive Plan of Action Rencana Aksi Komprehensif Bersama), biasa juga disebut sebagai Kesepakatan Nuklir Iran 2015.

Mikhail Ulyanov memaparkan sulitnya situasi saat ini dimana Washington dan Teheran memiliki banyak perbedaan. Sebagian besar perbedaan dikatakan berasal dari langkah pembalasan Iran menjauh dari kesepakatan. Tetapi penting untuk dipahami bahwa ini terjadi bukan karena niat buruk Teheran.

Menurutnya, langkah Teheran saat ini merupakan reaksi terhadap kebijakan tekanan maksimum Amerika Serikat dengan sanksi ekstrateritorial dan bentuk tekanan lain terhadap Teheran. Demikian dijelaskan dalam pembicaraan JCPOA putaran ketujuh di Wina, ibu kota Austria.

JCPOA ditandatangani pada tahun 2015 antara Iran dengan negara-negara dalam Kelompok 5+1. Kesepakatan itu disahkan oleh Resolusi Dewan Keamanan PBB 2231. Perjanjian itu mencabut sanksi Amerika Serikat terhadap Iran sekaligus mengatur hal-hal terkait nuklir Iran.

Mei 2018 Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump menarik diri dari kesepakatan itu dan kembali memberlakukan sanksi terhadap Iran. Langkah itu direspon Teheran, Mei 2019 Iran mengurangi komitmen sebagaimana diatur dalam JCPOA.

Pembicaraan JCPOA kembali bergulir sejak pemerintahan Presiden Joe Biden dimana ia menyuarakan kesediaan untuk bergabung lagi dalam perjanjian itu. (Tasnim/hiu)