10 Nopember, Pemerintah RI Anugerahi Gelar Pahlawan kepada 5 Tokoh

Mahfud MD.

maiwanews – Dalam rangka memperingati hari pahlawan pada 10 Nopember 2022, pemerintah Republik Indonesia (RI) kembali akan menganugerahi gelar pahlawan nasional kepada 5 tokoh yang telah berjasa pada bangsa dan negara.

Demikian diungkapkan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD dalam keterangan resminya yang disampaikan dalam Youtube Channel Menko Polhukam, Jumat, (3/11).

“Hari ini, presiden bersama Dewan Gelar dan Tanda-tanda Kehormatan yang diketuai oleh Menko Pohukam, memutuskan memberi gelar pahlawan nasionalkepada  putra-putra terbaik bangsa yang telah wafat,” kata Mahfud MD.

Menurut Mahfud, gelar pahlawan nasional diberikan kepada para tokoh karena jasa-jasanya kepada negara. Menurut dia, upacara resmi pemberian gelar dilaksanakan pada tangga 7 Nopember di Istana Negara dan dipimpin oleh Presiden jokowi.

Kelima tokoh yang akan dianugerahi gelar pahlawan tersebut pertama adalah Dr. dr. HM. Soeharto dari Jawa Tengah. Menurut Mahfud, dr. Soeharto adalah dokter yang merawat Presiden Soekarno dan para pejuang bangsa lainnya.

Lalu kedua, KGPAA Paku Alam VIII dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Dikatakan Mahfud, Paku Alam VIII adalah salah seorang raja bersama Sultan Hamengkubuwono IX yang sebelumnya adalah penguasa Yogya Pakualaman sebagai daerah otonomi khusus dari Kerajaan Belanda.

Oleh karena itu kata Mahfud, ketika Indonesia merdeka, DI Yogyakarta dan Pakualaman tidak termasuk wilayah Indonesia karena bukan bagian yang dikelola secara administratif oleh Hindia Belanda, melainkan langsung mendapat otonomi dari Kerajaan Belanda.

Akan tetapi lanjut Mahfud, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII justru membuat deklarasi menggabungkan diri dengan Republik Indonesia sehingga  RI jadi utuh. Mahfud melanjutkan, karena itu Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit bahwa gabungan Yogyakarta dan Pakulaman menjadi daerah istimewa.

Ketiga, dr. R. Rubini Natawisastra dari Kalimantan Barat yang memberi pelayanan kesehatan bagi para pejuang di hutan-hutan. Bahkan kata Mahfud, karena senantiasa meneriakkan dan memperjuangkan kemerdekaan, Rubini bersama isteri dibunuh pada masa penjajahan Jepang.

Keempat adalah Haji Salahuddin Bin Talabuddin dari Maluku Utara yang senantiasa meneriakkan perjuangan kemerdekaan Indonesia sampai pernah diasingkan ke Moven Digul dan Nusakambangan.

Lalu yang kelima adalah KH. Ahmad Sanusi dari Sukabumi, Jawa Barat yang merupakan anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) seangkatan dengan Soekarno, Hatta, KH. Wahid Hasyim, KH. Kahar Muzakkir dan lain-lain.

“Kh. Ahmad Sanusi aktif merumuskan dasar negara kita, dasar negara Pancasila. Beliau ikut mendorong salah satu kompromi terbentuknya negara, tidak menjadi negara agama tetapi juga buka negara sekuler melainkan negara kebangsaan yang berketuhanan dan itu nama ideologinya adalah Pancasila,” kata Mahfud.