
maiwanews – Lockheed Martin menerima kontrak senilai $270 juta atau sekitar 4,39 triliun rupiah dengan kurs Rp16.275 per-dolar. Kontrak itu dari Angkatan Udara Amerika Serikat untuk mengintegrasikan sistem sensor pertahanan inframerah generasi berikutnya pada jet tempur F-22 Raptor.
Pessawat tempur F-22 Raptor akan segera dilengkapi dengan serangkaian sensor TacIRST tertanam. Teknologi ini baru dikembangkan oleh Lockheed Martin untuk meningkatkan kemampuan bertahan dan mematikan pesawat, dikenal sebagai Sistem Pertahanan Inframerah (Infrared Defensive System/IRDS).
Selain mengelola integrasi IRDS pada F-22, perusahaan juga akan mendukung integrasi pada platform lain. Demikian pernyataan Lockheed Martin dari Orlando, Florida, Amerika Serikat, Rabu, 22 Januari 2025, waktu setempat.
“Kami memahami perlunya sistem inframerah seperti IRDS agar misi pilot lebih dapat bertahan dan mematikan musuh saat ini dan masa depan,” kata Hank Tucker, wakil presiden Sistem Misi di Lockheed Martin.
Hal senada disampaikan Justin Taylor, wakil presiden program F-22 di Lockheed Martin. Ia memaparkan, perusahaan berkomitmen untuk mendukung AU AS (Angkatan Udara Amerika Serikat) melalui inovasi kemampuan berkelanjutan untuk mencegah dan mengalahkan ancaman.
Taylor juga menyampaikan rasa bangga atas kemitraan dengan AU AS. “Lockheed Martin bangga dapat terus bermitra dengan Angkatan Udara dalam upaya modernisasi penting untuk Raptor, memanfaatkan keahlian kami dalam pesawat Generasi ke-5 dan sistem dominasi udara untuk mengintegrasikan kemampuan demi memastikan superioritas udara AS tanpa gangguan saat ini dan di masa mendatang.” (z/Lockheed Martin)









