Sekjen Depbudpar: Pengembangan Pariwisata Dihadapkan Tiga Tantangan Utama

Pengembangan sektor pariwisata di masa datang masih dihadapkan pada tiga tantangan utama, yakni adanya perubahan prilaku dan keinginan wisatawan dalam menghadapi krisis global, peningkatan pencitraan Indonesia sebagai destinasi pariwisata yang aman, serta ketersediaannya kapasitas dan kualitas produk wisata.

“Krisis global mendorong terjadinya re-orientasi jalur perjalanan wisatawan jarak jauh (long haul) ke jarak menengah dan pendek (medium and short haul trip), menurunnya tingkat pengeluaran dan lama tinggal maupun jumlah perjalanan wisatawan yang melakukan perjalanan ke luar negeri karena mereka lebih memilih berwisata di dalam negeri,” kata Wardiyatmo, Sekjen Depbudpar, seusai membuka “Workshop Peningkatan Pemahaman Bidang Kebudayaan dan Pariwisata bagi Jurnalis dan Pers” yang diadakan oleh Pusat Informasi dan Humas (Pusformas) Depbudpar di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Jumat (23/10).

Menurut Wardiyatmo, munculnya gangguan keamanan dan kesehatan (wabah) dapat mempengaruhi citra Indonesia sebagai destinasi yang aman dan nyaman. “Setiap insiden membutuhkan program pemulihan yang memakan sumber daya yang besar dan waktu lama, karena berulangnya insiden dari waktu ke waktu akan menjadi citra (image) yang kurang baik,” katanya.

Selain itu ketersediaan penerbangan langsung oleh maskapai nasional dari pasar-pasar utama dan potensial, kata Wardiyatmo, juga menjadi tantangan yang harus segera diatasi. “Penyusunan paket wisata dalam negeri yang masih lemah, ketersediaan prasarana umum yang terbatas, serta beberapa destinasi pariwisata telah melewati masa puncak yang perlu direvitalisasi, juga menjadi tantangan,” kata Wardiyatmo.

Tahun 2010 Depbudpar bersama stakeholder pariwisata telah sepakat untuk menaikkan target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dari 6,5 juta pada tahun ini, menjadi 7 juta wisman. Kenaikan target tersebut antara lain setelah mempertimbangkan kondisi capaian tahun ini sebesar 6,5 juta wisman atau tumbuh sekitar 1%-2% dari tahun 2008 sebesar 6,4 juta wisman dengan perolehan devisa sebesar US$ 7,3 miliar. (budpar)