Memanen Ikan Pengganti Penghasilan Ancaman Puso

PANEN IKAL DI WADUK PACALBOJONEGORO – Terus menyusutnya ketinggian air Waduk Pacal di Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang, Bojonegoro, dari volume efektif 6 juta meter kubik yang kini tinggal separohnya jelang musim kemarau tahun ini, memang membuat ratusan hektare hamparan persawahan di 19 kecamatan harus berjuang keras jika tak ingin gagal panen (puso).

Namun kondisi menuju puncak kekeringan itu justeru membawa berkah tersendiri bagi kehidupan para nelayan Waduk Pacal.

“Kami malah kesulitan mencari ikan ketika air waduk masih melimpah. Saat air waduk terus menyusut adalah saat para nelayan panen ikan,” kata sejumlah warga yaang tinggal di kawasan hutan BKPH Tretes ini, Senin (26/07/2010).

Dikatakan warga, dalam hari-gari belakangan ini di Waduk Pacal sedikitnya ada 100 nelayan asal Desa Kedungsumber, Sugihan, Kecamatan Temayang dan Desa Gondang, Kecamatan Gondang, yang selalu mencari berbagai aneka ikan, terutama pada musim kemarau.

Dalam mencari ikan, mereka memanfaatkan perahu dan alat penangkap ikan mulai jaring, jala, telik atau alat penangkap ikan kecil semacam bubu, juga alat penangkap ikan lainnya.

Dengan demikian mereka yang tetap menangkap ikan dengan jaring, pijer dan jala, dengan hasil tangkapan ikan mulai nila, tawes serta gloso, penghasilannya mulai membaik seperti saat jelang musim kemarau tahun lalu.

Hanya saja, selama ini ikan di waduk tidak pernah ada tambahan bibit baru. Padahal, para nelayan setempat setiap rampung panen ikan selalu membayar iuran untuk pembelian bibit Rp 10 ribu bagi setiap warga yang menjaring ikan.

“Karena tidak pernah ada tambahan bibit ikan baru, tahun lalu kami semua sepakat tidak bersedia membayar lagi iuran,” ujar Satimin, warga setempat.