maiwanews – Demi meninggikan martabat bangsa di mata dunia, politisi Golkar Hajriyanto Tohari mendukung rencana Bank Indonesia (BI) melakukan program redenominasi atau penyederhanaan angka rupiah.
“Bayangkan mata uang kita, satu dolar itu Rp 10 ribu bahkan sempat Rp 11 ribu. Itu merendahkan martabat bangsa,” kata Wakil Ketua MPR, Hajriyanto Tohari di Gedung DPR, Rabu, 4 Agustus 2010.
Menurut Hajriyanto, perbedaan nominal rupiah dengan mata uang asing sangat terasa efek psikoliginya ketika kita pergi keluar negeri. Mata uang kita, katanya, terkesan sangat tidak berharga.
Hajriyanto mencontohkan Turki yang ia nilai berhasil menyederhanakan enam digit mata uangnya, sehingga 1 dolar AS sama dengan 1 juta mata uang Turki. Program itu menurutnya, berhasil dilakukan dalam waktu lima tahun.
Hajriyanto menilai rededominasi itu dari perspektif politik. Menurutnya, penyederhanaan nominal mata uang perlu dilakukan karena akan mempengaruhi rasa percaya diri bangsa.
Seperti diketahui, Bank Indonesia kini sedang menggodok redenominasi atau penyederhanaan rupiah tanpa mengurangi nilainya. Misalnya adalah uang Rp 1.000.000 nantinya menjadi Rp 1.000 namun nilainya tidak berkurang.
Pelaksanannya, pada langkah awal, harga barang akan dicantum dengan dua harga, uang lama dan uang baru. Masa transisi itu berlangsung sekitar tiga tahun, setelah itu uang lama berangsur ditarik.
Namun sejumlah kalangan mengkhawatirkan program itu menimbulkan problem serius secara politis maupun ekonomi akibat pemerintah harus mencetak uang dalam jumlah sangat besar. Apalagi pencetakan itu dilakukan menjelang pemilu 2014.









