
maiwanews – Peningkatan jumlah korban tewas atau turunnya suhu tidak akan mengubah arah perang Rusia melawan Ukraina. Hal ini dikemukakan para pejabat senior Amerika Serikat, mereka bertugas mendukung perjuangan Ukraina melawan pasukan Moskow.
Sejumlah pejabat tersebut mengatakan hanya terjadi sedikit perbuahan di garis depan akibat pertempuran dalam beberapa pekan terakhir, dan situasi menunjukkan Rusia tidak melakukan perubahan berarti. Demikian laporan Direct USAGM, Kamis, 10 Oktober 2024 EDT, mengutip VOA.
“Ini adalah strategi saling mengikis,” ujar pejabat militer senior AS (Amerika Serikat). “Ini adalah cara berperang Rusia di mana mereka terus menambahkan jumlah pasukan ke medan tempur.”
Cara tersebut dianggap membuat posisi Ukraina menjadi terdesak harus dibayar mahal oleh militer Rusia, menurut penilaian terbaru militer AS.
AS memperkirakan pasukan Rusia telah kehilangan 600.000 korban jiwa tewas dan terluka, sejak Moskow pertama kali melancarkan invasi ke Ukraina pada Februari 2022. Jumlah tersebut, menurut para pejabat AS, melebihi jumlah korban Rusia dalam konflik apa pun sejak Perang Dunia II.
Bulan September merupakan bulan sangat merugikan bagi Rusia karena jumlah pasukan mereka tewas lebih banyak dibandingkan bulan-bulan lain dalam perang tersebut, kata para pejabat.
Para pejabat senior AS memperkirakan, Ukraina telah menghancurkan atau merusak lebih dari 30 kapal Rusia berukuran sedang hingga besar di Laut Hitam, sehingga memaksa Rusia memindahkan armada Laut Hitamnya. Ukraina juga diperkirakan telah menghancurkan lebih dari dua pertiga dari total jumlah tank milik Rusia sebelum perang.
“Hal itu memaksa militer Rusia menggunakan simpanan persenjataan era Soviet dan memanfaatkan tangki-tangki bahan bakar dari Perang Dunia II,” kata seorang pejabat senior pertahanan AS.
Selain itu ada serangan pesawat tak berawak Ukraina terhadap depot-depot amunisi Rusia, diyakini telah menghancurkan ratusan ribu amunisi buatan Rusia dan Korea Utara.
Para pejabat AS mengatakan kerusakan kemungkinan akan memperlambat pengiriman amunisi dan artileri ke garis depan.
Meski demikian mereka memperingatkan, Kremlin tampaknya tidak tergoyahkan, bahkan ketika lebih banyak korban berjatuhan di pihak Rusia.
Untuk saat ini, para pejabat senior AS menilai bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah menghindari mobilisasi pasukan dalam jumlah banyak, seperti memanggil 300.000 tentara cadangan pada september 2022. Keputusan tersebut diambil karena makin banyaknya jumlah relawan tempur Rusia. Namun, belum jelas berapa lama Putin dapat bertahan untuk tidak menyerukan penambahan pasukan baru di medan tempur. (z/Direct/USAGM/VOA/ps/ab/rs)









