Dirut Pindad: Industri Pertahanan Harus Jadi Penopang Ekonomi Nasinal

Panser-Buatan-Pindadmaiwanews – Direktur Utama (Dirut) PT Pindad (Persero), Silmy Karim bertekad mendukung kebijakan pemerintah untuk menjadikan industri pertahanan yang ada di Indonesia menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional.

Hal itu diungkapakan Silmy usai penunjukan dirinya sebagai orang nomo satu di PT Pindad menggantikan Sudirman Said yang Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Energi da Sumber Daya Mineral (ESDM).

Silmy mengutakan keyakinannya bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar untuk membangun kemandirian industri pertahanan nasionalnya.

“Jangan mau ketinggalan dari negara lain, kebangkitan dan pertumbuhan industri pertahanan cermin keberhasilan pembangunan teknologi, pemberdayaan sumber daya manusia sekaligus ketahanan nasional kita sebagai suatu bangsa,” kata Silmy di kantor Kementerian BUMN, Senin, 22 Desember 2014.

Keyakinan Silmy itu didasari pada upaya Pindad selama ini dalam menjalin kemitraan strategis dengan berbagai perusahaan pertahanan kelas dunia. Kemitraan itu diyakini Silmy dapat membantu terjadinya alih teknologi dan pembukaan pasar baru industri pertahanan nasional.

Silmy mencontohkan upaya kerjasama yang dibangun Pindad dengan Rheinmetall  Denel Munition (RDM) yang juga berinduk ke Rheinmetall di Jerman untuk membangun pabrik amunisi kaliber besar yang berlokasi di Turen, Malang.

Kerjasama itu kata Silmy, merupakan bagian dari upaya strategis untuk peningkatan kapasitas produksi dan penguasaan teknologi bagi para karyawan Pindad untuk memenuhi kebutuhan domestik bagi TNI.

Lebih dari itu lanjut Silmy, pihaknya akan menekankan pada kerjasama itu agar mencakup upaya memenuhi permintaan pasar amunisi kaliber besar di dunia yang merupakan bagian dari supply chain global yang harus dikuasai Indonesia di masa depan.

Silmy selama ini dikenal sebagai pembicara di berbagai forum dalam dan luar negeri terkait kebijakan dan isu-isu pertahanan. Silmy memiliki latar belakang pendidikan pertahanan di berbagai institusi seperti NATO School di Jerman, Harvard University di Amerika Serikat, Naval Post Graduate School di Amerika Serikat, dan George C. Marshall European Center for Security Studies di Jerman.

Selain Pindad, beberapa perusahaan yang bergerak di industri pertahanan juga dikenal punya segudang prestasi dalam menciptakan alat utama sistim persenjataan (alutsista) seperti PT Dirgantara Indonesia, PT Dahana, PT PAL, dan lain-lain.