Gresik tidak Cocok Dipimpin Kaum ‘Abangan’

HUSNIL HULUQ.
HUSNIL HULUQ.

GRESIK – Ketokohan saja, tidak disertai dengan modal pengalaman dan kemampuan dibirokrasi untuk memimpin Kabupaten Gresik yang memiliki ribuaan perusahaan Industri dan sekaligus Kota Santri belum cukup. Calon yang tepat bukan dari kalangan pengusaha maupun politisi tulen, tetapi adalah cabup yang mempunyai ketokohan dan pengalaman dibirokrasi berlatar belakang religius.

“Gresik tidak akan maju jika pemimpinya tidak memiliki latar belakang agama dan berkarakter kuat. Yang utama adalah kemampuanya memimpin birokrasi demi kepentingan pelayanan dari segala aspek yang dimiliki warga dan kepentingan industrialisasi, utamanya untuk dakwah Islam,” kata KH Abdushomad Buchori Ketua Maajelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim, Rabu (7/4)

Abdushomad menambahkan, industri sangat penting dikembangkan untuk tetap menjaga dan membangun mental, ekonomi dan karakter Gresik sebagai Kota Santri yang merupakan warisan para wali. Jika ditilik dari history Gresik adalah kota yang tidak bisa dipisahkan dengan sejarah Islam. “Jika dimpimpin orang yang tidak mengerti Islam, maka masyarakat Gresik yang Islami ini akan terjadi degradasi kwalitas relegiusitasnya,” tegasnya

Meski dirinya tidak menyebut calon, Abdushomad meminta warga Gresik memilih calon yang memiliki ke Islaman yang kuat, sehingga bisa menjadi dasar kepemimpinan yang rahmatan lil alamin. “Meskipun dari partai bukan masalah yang penting mempunyai visi ekonomi syariah yang kuat. Karena membangun ekonomi syariah yang bisa mengayomi semua kepentingan lapisan masyarakat dibutuhkan tokoh birokrasi yang religius,” jelasnya

Jika Gresik dipimpin dari kalangan “abangan” tidak cocok dengan mayoritas masyarakatnya. Setidaknya pemimpin yang mempunyai nilai religius juga akan mampu membendung maraknya aliran-aliran sesat yang merusak aqidah Islam. “Tidak mungkin anak kuda disusui oleh ibu domba. Dipaksapun anak kuda tidak akan mau, karena tidak cocok dengan kebiasaanya,” ucapnya

Harapan MUI mendapatkan respon sejumlah kalangan masyarakat bawah. Misalnya seperti Tasimin (50 tahun) seorang tukang becak yang biasa mangkal di sekitar Perumahan Petrokimia Gresik. Tasimin sependapat dengan pemikiran ketua MUI itu, dirinya bakal memberikan suaranya pada 26 mendatang kepada pasangan yang bisa mengaji. “Saya memilih yang pinter khotbah Mas,” ungkap Tasimin. “Pak Khuluq itu lho Mas. Khotbahnya mantap, cocok memimpin Gresik, sampai merinding kau,” tandas warga

Hal yang sama juga dikatakan oleh Mariono pemilik warung kopi di Jl Wahidin Sudirohuso. Pria asal Rembang yang sudah mempunyai hak pilih di Kabupaten Gresik ini bakal memberikan suaranya kepada pasangan Husnul Khuluq yang berpasangan dengan Musyaffa’ Noer (Humas). Alasanya Gresik hanya cocok dipimpin orang NU yang berpengalaman di birokrasi. “Pokoknya Humas. Paling-paling sama saja, daripada sama saja ya kita enak pilih orang NU,” katanya singkat.