BOJONEGORO – Bagi Ngasimah, 65, petani warga Desa Butoh Kecamatan Ngasem, panen kali benar-benar sangat tidak menguntungkan. Hasil panen yang biasanya dijual untuk
bayar hutang dan kebutuhan lain, kali ini nyaris gagal total kalau tidak boleh dikatakan bangkrut.
Karenanya, Ngasimah terpaksa membawa pulang gabah sebanyak 7 sak kantong bervolume 50 g dari lahan padi yang hanya seluas 700 M2. Sak itu dipikulnya dibantu oleh tiga pemuda dusun setempat. Sesampai di rumah, perempuan yang telah lama berstatus janda itu membeber terpal plastiknya yang sudah sobek termakan usia.
Kemudian gabah ditumpahkan di dasar terpal untuk dijemur. Sesekali gabah dibolak balik untuk mendapatkan sinar matahari. “Biar keringnya. Biasanya gabah saya jual, tapi mending saya bawa pulang. Sebab tengkulak hanya membeli murah, “ ujar Ngasimah sembari menyeka peluh di wajah tuanya yang kering dan lelah.
Menurut Ngaimah, untuk perkilogramnya harga pasaran gabah kering di dusunnya hanya dibeli Rp 1.800. Sehingga memilih untuk membawa pulang gabah untuk disimpan dan dimasak sendiri untuk kebutuhan makan sehari hari. Ngasimah sendiri tidak tahu kenapa harga gabah dibeli murah, padahal gabahnya tidak jelek dan bulir padinya baik.
Diakuinya, dalam musim panen belakangan ini, tengkulak tidak mau membeli gabah seperti panen sebelumnya yang perkilogramnya maish berkisar antara Rp 2300 hingga 2500. Tengkulak beralasan gabah hasil panen kali ini mengalami penurunan kwalitas, yakni buah padinya banyak kosong dan berwarna hijau. Penyebabnya karena roboh terguyur air hujan secara terus menerus.
Nasib getir tak cuma dialami Ngasimah. Petani lainnya, Yatijo, 35, petani di Desa Kolong, Kecamatan Ngasem juga mengalami hal yang sama. Gabah hasil panennya hanya dihargai oleh tengkulak sebesar Rp 1700. Dari pembeliaan yang murah itu Yatijo memutuskan untuk membawa pulang gabah dari lahan padinya yang seluas 1 Hektar.
Namun dia mengaku akan menghadapi permasalahan, karena harus menanggung hutang pupuk dan obat yang digunakan sebelum masa panen. Rencana Yatijo akan mencari uang untuk membayar hutang di luar kota dengan bekerja sebagai kuli bangunan seperti yang pernah dilakukan di tahun sebelumnya.
Tidak hanya dia, namun sebagaian besar petani yang saat ini memasuki masa panen merasakan nasib yang sama. Bahkan pembelian gabah yang murah juga terjadi di ribuan hektar lahan padi di sejumlah desa dalam Kec Kedungadem, Sumberrejo, Kota, Sugihwaras, Balen, Sokosewu, Ngambon, Ngasem, Kasiman dan Tambakrejo.
Keresahan juga dialami ratusan petani lainnya di wilayah Kecamatan Kepohbaru. Di sana sejumlah tengkulak terpaksa mengembalikan uang muka pembelian gabah. Seperti yang dituturkan oleh Atno, 40. Menurutnya, sebagian besar petani di Desa Krangkong Kecamatan Kepohbaru menerima kembali uang muka bervariasi dari tengkulak, yakni Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu.
“Ada juga tengkulak yang nggak ngembalikan, jadi gabah petani disini tidak terjual. Alasan tengkulak mengatakan bahwa harga gabah merosot alias anjlok, “ kata Atno.
Kepala Bulog Sub Divre III Bojonegoro, Imam Budi, membenarkan murahnya harga gabah. “Bukan kami membeli murah, tapi yang terjadi adalah kwalitas gabah panen kali ini sangat jelek. Digiling juga banyak butiran dan rata rata gabah masih berwarna hijau, “ katanya.









